SLEMAN – Rektor UGM Panut Mulyono mengakui lambannya penanganan kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami Agni (bukan nama sebenarnya). Yang terjadi dalam program kuliah kerja nyata Juli-Agustus 2017, di Pulau Seram, Maluku. Dia juga menyadari adanya budaya menyalahkan korban (blaming the victim) turut menjadi penyebab lambatnya pemenuhan hak penyintas. “UGM meminta maaf atas kelambanan yang terjadi,” ungkapnya Jumat (7/12).

Begitu menerima laporan UGM menarik terduga pelaku, HS, dari keikutsertaannya dalam KKN. Namun, sejak saat itu tak ada tindakan signifikan, sehingga pelaku melenggang sampai yudisium.

“Sekalipun berlarut-larut sampai dua tahun,” kata Mudjajir Darwin, ketua tim penyusun kebijakan pencegahan dan penanggulangan pelecehan seksual UGM.

Mudjajir membantah adanya unsur kesengajaan untuk mengulur waktu penanganan masalah itu. Kendati demikian, dia tak menampik pelecehan seksual merupakan pelanggaran berat. Tim investigasi yang dibentuk UGM pun telah menyimpulkan adanya kebenaran kasus tersebut.

Hal inilah yang lantas menjadi landasan UGM menangguhkan kelulusan terduga pelaku. HS seharusnya diwisuda pada November lalu. Sementara penyintas sampai saat ini masih menjalani konseling. Sambil menyelesaikan skripsi. “Kami mendorong penyintas untuk segera menyelesaikan studinya,” ujar Mudjajir.

Mudjajir menyatakan, UGM masih terus berusaha menuntaskan perkara tersebut. Lewat tim pencari fakta yang bekerja di bawah koordinasi wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Meski UGM telah melaporkan kasus tersebut ke polisi, Mudjajir menjamin keputusan sanksi bagi HS dilakukan secara independen. Tidak terpengaruh hasil penyelidikan polisi. (cr10/yog/fn)