Polisi mampu menari. Itu terbukti saat ratusan anggota Polda DIJ membawakan tari kolosal Kartika Mrahaswara. Mereka mampu menyajikan rampak gerak dengan apik.

DWI AGUS, Sleman

Ratusan penari tampak menari dengan penuh semangat. Gerakan mereka begitu harmonis. Kompak.

Mereka membawakan tarian kolosal. Judulnya Kartika Mrahaswara. Maknanya adalah bintang yang bersinar terang.

Tarian itu merupakan salah satu pengisi acara peresmian peningkatan tipologi Polda di Mapolda DIJ Jumat (7/12). Kapolri Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian, yang hadir dalam acara itu, tampak menikmati tarian tersebut. Dia terlihat tersenyum. Kapolda DIJ Ahmad Dofiri juga demikian. Mengulas senyum.


Joko Mursito

Suasana Mapolda DIJ kemarin memang begitu semarak. Ratusan polisi dari berbagai kesatuan terlihat antusias. Mereka menikmati tarian yang dikreasi oleh Joko Mursito tersebut.

“Kartika Mrahaswara artinya adalah bintang yang bersinar terang. Persembahan atas peningkatan tipologi Polda DIJ. Dilambangkan dengan dua bintang sebagai simbol jabatan Kapolda yang diemban seorang jenderal bintang dua,” jelas Joko ditemui usai pementasan.

Joko mengaku tidak mudah membuat karya ini. Terlebih, dia hanya memiliki waktu sekitar delapan kali pertemuan untuk berlatih sebelum pementasan.
Tarian ini melibatkan sebanyak 125 penari. Ada pula sekitar 50 penabuh gamelan. Lebih sembilan puluh persen tim tarian ini adalah personel kepolisian.
Saat berlatih, Joko kudu memberikan arahan koreografi secara efisien. Sebab, anggota polisi tidak terbiasa menari. Termasuk menyelaraskan gerak tari dengan tetabuhan pengiring.

“Total latihan hingga pementasan sekitar delapan kali pertemuan. Konsep berlatihnya maraton dan prosesnya terhitung lancar,” ujar pria 46 tahun ini.
Bagi Joko, melatih seorang polisi tentu berbeda dengan melatih seniman tari. Tapi, perbedaan ini justru menjadi berkah tersendiri dalam berlatih.

Menurutnya, seorang polisi memiliki keunggulan stamina dan kedisiplinan. Sedangkan seorang seniman mempunyai keunggulan teknis.

Dalam sebuah tarian kolosal cenderung mengutamakan rampak gerak. Inilah yang bisa diperoleh dari stamina dan tingkat kedisiplinan tinggi para penari yang berlatar belakang anggota kepolisian.

“Saat awal mencari penari, terpenting adalah mau atau tidak. Bukan bisa menari atau tidak. Untuk tari kolosal ini, stamina dan kedisiplinan para personel polisi sudah memenuhi syarat,” katanya.

Untuk menghadirkan keindahan tari kolosal dengan apik perlu didukung sejumlah properti. Ada boneka, gunungan, hingga bendera berukuran besar. Seluruhnya dikolaborasikan menjadi satu kesatuan yang apik untuk menghidupkan alur Kartika Mrahaswara.

Joko, yang juga menjabat sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo, menjabarkan detail pementasan. Layaknya tari kolosal, Kartika Mrahaswara pun dikemas dalam sebuah cerita. Dia membagi jalan cerita menjadi tujuh panel.

“Tokoh sentralnya Gatotkaca, representasi dari sosok Kapolda. Awalnya, di sebuah perkampungan, warganya hidup aman damai. Tiba-tiba datanglah buta (raksasa) yang melambangkan kejahatan,” jelasnya.

Pada awal pementasan, puluhan polisi laki-laki memasuki halaman Mapolda DIJ. Mereka berdandan layaknya anak kecil. Mereka bermain, berlarian, dan bersenda gurau. Musik pengiring mengalunkan tetabuhan dolanan bocah.
Sejurus kemudian, muncul puluhan polwan membawa kurungan ayam dari bamboo. Ketika semua sedang asyik menari, tiba-tiba datang sekumpulan buta. Tanpa pandang bulu, para buta itu merusak dan menganggu warga yang tengah berkumpul.

Sosok Gatotkaca muncul dari sisi selatan. Tergantung pada tali sling, sang pahlawan di dunia pewayangan ini terbang menuju sumber kericuhan. Satu per satu buta tersebut dihajar. Seorang diri, Gatotkaca berhasil melumpuhkan semua musuhnya.

Pada akhir pementasan, boneka Gatotkaca berukuran besar keluar dari cangkang telur. Gatotkaca ini membawa dua bintang. Inilah perlambang meningkatnya tipologi Polda DIJ dari tipe B menjadi tipe A. Fragmen ini sekaligus menggambarkan Polda DIJ akan dipimpin seorang berpangkat Inspektur Jenderal Polisi.

”Semua properti ini punya filosofi tersendiri. Seperti boneka obah owah, maknanya adalah kerja sama. Apapun yang digerakan oleh penari, boneka di sisi belakang dan depan mengikuti. Artinya, untuk mencapai prestasi harus ada pergerakan, seperti dari tipe B ke tipe A,” jelasnya.

Keutamaan budaya Jogjakarta kental dalam pementasan ini. Seluruh kostum mengadaptasi kearifan lokal Jogjakarta. Para penari mengenakan busana motif batik, jumputan, dan pernak-pernik lainnya.

Bahkan, ada satu kolaborasi unik di penghujung tarian. Sejumlah polwan bertingkah dan memeragakan gerakan khas jatilan. Hanya saja, mereka tidak menunggang kuda kepang. Mereka menaiki replika sepeda motor.

”Kami menamakannya jaliantas, gabungan dari jatilan dan akronim lalu lintas yaitu lantas. Maknanya, polisi bisa mengkampanyekan setiap program dengan kemasan yang berbeda. Seperti kolaborasi dengan kesenian-kesenian tradisi,” ujarnya. (amd/fn)