SLEMAN – Tim robot terbang UGM, Gamaforce meraih juara umum Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2018. Kontes tersebut diselenggarakan di Universitas Teknokrat Indonesia Bandar Lampung (5-9/11) lalu.

Gamaforce memiliki empat subtim. Khageswara, Gadjah Mada Fighting Copter, Rasayana, dan Fiachra Aeromapper. Keempatnya meraih prestasi terbaik yang membawa UGM mencatat rekor sebagai juara umum untuk kali keempat berturut-turut.

Divisi Teknologi Development Khageswara, Diky Agustian mengatakan, timnya mengembangkan sendiri sistem avionic. Terdiri dari flight controller, ground control station, dan antena tracking system.

Khageswara mengembangkan wahana Vtol Plane. Perpaduan antara chopter dan plane, teknologi ini membawa Khageswara meraih juara pertama Divisi Technology Development.

“Vtol Plane punya kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertical. Tapi juga bisa terbang seperti pesawat umumnya. Kami juga kembangkan flight controller yang bisa digunakan untuk beberapa jenis wahana. Yakni fixed wing, rotary wing, vtol plane dan antenna tracker,” jelasnya di lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Jumat (7/12).

Gadjah Mada Fighting Copter tak kalah canggih. Robot terbang ini mampu menyelesaikan misi pick and drop survival kits. Programmer Image Proscessing Gadjah Mada Fighting Chopter, Baskara mengungkapkan, wahana tersebut mampu mengangkut dan menjatuhkan muatan pada koordinat yang diinginkan.

“Kalau ada lokasi yang belum bisa diakses karena bencana, maka barang seperti survival kits bisa diantarkan dengan berat maksimal dua kilogram. Wahana ini mampu menyelesaikan misi dalam waktu 10 menit dan sudah siap apabila dikembangkan dalam situasi sebenarnya,” papar Baskara.

Dua wahana lain, Rasayana dan Fiachra Aeromapper memiliki keunggulan luar biasa. Rasayana mampu terbang dengan kecepatan 200 kilometer per jam dengan muatan sampai 500 gram. Bisa dijadikan pesawat tanpa awak penyerang tiba-tiba untuk kemudian pergi dengan cepat.

“Sedangkan Fiachra Aeromapper bisa digunakan untuk monitoring dan mapping area. Waktu terbang 60 menit menggunakan baterai 10.000 mAh. Wahana ini mampu terbang stabil karena memiliki desain tailed atau berekor yang memungkinkan pesawat melakukan gerakan pitch, roll, dan yaw,” ujar pilot Fiachra Aeromapper, Eko Putra Wijaya.

Dosen Pembimbing, Andi Darmawan dari Elektronika dan Instrumentasi Gamaforce UGM menambahkan, wahana yang dibuat timnya siap diaplikasikan. Mempermudah kinerja sehari-hari.

“Produk anak bangsa sangat baik. Sangat bermanfaat dan bisa dihilirisasi bahwa produk mahasiswa ini membawa kontribusi bagi Indonesia,” tuturnya. (ita/iwa/fn)