GUNUNGKIDUL – Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul penasaran dengan efek booming wisata. Terutama, terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sebab, hingga sekarang dispar belum memiliki data riil sebaran uang wisatawan di Bumi Handayani.

Sekretaris Dispar Gunungkidul Hari Sukmono mengakui dispar belum pernah melakukan penghitungan. Dispar baru mulai melakukan penghitungan akhir tahun ini.

”Caranya dengan menyebar quisioner,” jelas Hari saat dihubungi Jumat (7/12).

Kendati luas wilayah Gunungkidul cukup luas, Hari menyebut hanya menyediakan 500 lembar quisioner. Disebar di berbagai titik. Sasarannya wisatawan.

”Nanti juga akan dipilah antara laki-laki dan perempuan. Karena besaran belanjanya berbeda,” ucapnya.

Hasil penghitungan ini, Hari menekankan, tidak sekadar untuk mengetahui besaran belanja wisatawan. Melainkan juga sebagai indikator dalam pengembangan sektor pariwisata. Agar dampak sektor pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat terukur.

”Penghitungan ini juga tertuang dalam RPJMP 2005-2020,” ujar Hari menyebut Kota Jogja yang pernah menghitung dan merilis seberapa besar jumlah belanja wisatawan.

Terkait jumlah wisatawan, Hari mengungkapkan, hingga sekarang telah mencapai 2,7 pengunjung. Dari jumlah itu, mayoritas merupakan pengunjung objek wisata pantai. Dari tingkat kunjungan ini diketahui pendapatan asli daerah telah mencepai Rp 22 miliar.

”Kurang Rp 6 miliar dari target Rp 28,2 miliar,” sebutnya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Gunungkidul Edi Susilo mendorong pemkab agar memaksimalkan potensi PAD dari sektor pariwisata. Caranya dengan membenahi sarana prasarana pendukung hingga melengkapi wahana bermain di setiap objek. (gun/zam/fn)