JOGJA – Dampak talud Sungai Code yang ambrol di Kampung Prawirodirjan RT 59 / RW 18, Gondomanan, Kota Jogja, Rabu (5/12) mulai dirasakan para pengungsi. Mereka membutuhkan bahan makanan. Meski mengungsi di rumah-rumah saudara mereka. Ketua RW 18 Wikan Eko Pamuji mengatakan, kebutuhan logistik setidaknya sampai rumah korban selesai diperbaiki. Kalau kebutuhan lain seperti selimut atau barang pengungsian belum begitu perlu,” ungkapnya Kamis (6/12).

Sebagaimana diketahui, sedikitnya 24 warga bantaran Code mengungsi setelah talud sepanjang 50 meter ambrol. Akibatnya, enam rumah warga, balai RW, dan sarana MCK umum rusak parah. Barang-barang berharga milik korban telah diamankan. Puing-puing sisa longsoran juga telah dibersihkan.

Penanganan sementara untuk mencegah longsor susulan hanya dengan memasang bronjong. Di bekas talud yang ambrol. Bronjong diharapkan bisa menahan aliran air Sungai Code. Supaya tak lagi menggerus fondasi bantaran.
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kota Jogja bahkan mengerahkan alat berat (backhoe) guna memudahkan pemasangan bronjong. Sebab, bibir sungai tertimbun cukup banyak reruntuhan material. Backhoe juga digunakan untuk mengeruk endapan sungai. Sebagai antisipasi banjir susulan.

“Bronjong dipasang tadi (kemarin 6/12) pagi. Karena kondisi medan ke lokasi longsor sulit dilalui alat berat,” ungkap. Kabid Sumber Daya DPUPKP Kota Jogja Air Aki Lukman Noor Hakim. Dia menduga talud ambrol lantaran umur bangunan sudah uzur. Selain itu ada kebocoran saluran irigasi di bibir sungai.
“Perbaikan talud secara permanen menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak,” jelasnya.

Di bagian lain Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Hary Wahyudi mengimbau masyarakat menghentikan aktivitas penambangan pasir Sungai Code. Sebab, hal itu bisa melemahkan kekuatan tanah penopang talud. Menurut Hary, pasir merupakan material utama penahan bangunan di bantaran sungai. Karena itu jika ditambang secara terus-menerus dalam skala besar, bagian permukaannya akan turun.

Tingginya debit air akibat hujan lebat juga menyebabkan sebagian bangunan dam Sungai Boyong di Dusun Lojajar, Dayakan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman ambrol. Sementara di bagian gorong-gorong dam terdapat banyak sampah dan batang pohon melintang. Mengakibatkan laju aliran air sungai terhambat. Kondisi itu dikhawatirkan menjadi pemicu banjir saat hujan deras kembali terjadi.

Petugas BPBD Sleman memasang garis pengaman di lokasi tersebut sebagai langkah antisipasi. Agar tak ada masyarakat yang mendekat. Apalagi di bagian atas dam terdapat retakan sepanjang sekitar 12 meter. “Tanggul dam longsor karena bagian bawahnya tergerus aliran air,” ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan.

Intensitas hujan yang cukup tinggi kemarin juga menyebabkan ambrolnya tanggul saluran Van Der Wijk. Tepatnya di Dusun Jambean, Banyurejo, Tempel. Tanggul setinggi 10 meter. Panjang 10 meter dan lebar 2 meter. Akibatnya, akses jalan bagi 4 kepala keluarga (KK) yang menghuni dua rumah di wilayah itu terganggu.

Dalam kesempatan itu Makwan juga mengingatkan akan potensi bencana angin kencang. Selama dua bulan terakhir puluhan pohon tumbang tersapu angin. Beberapa batang pohon menimpa rumah penduduk dan menghalani jalan.
Pejabat Pembuat Keputusan (PPK) OP III BBWS Serayu Opak Ovi Anton Nugroho menyatakan, perbaikan tanggul sungai berdasarkan prioritas. Dilihat tingkat kerusakan dan fungsinya dalam aspek keamanan permukiman penduduk.

Menurutnya, skala kerusakan tanggul Sungai Boyong dan talud Banyurejo masuk kategori rehab. Proyek rehab tanggul diperkirakan tahun depan. Sedangkan untuk perawatan saluran Van Der Wijk dilakukan bertahap. “Disesuaikan dengan anggaran yang ada,” jelasnya. (cr5/har/yog/fn)