JOGJA – Ada yang berbeda dalam kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jogjakarta Kamis (6/12). Jokowi tak lagi bagi-bagi sepeda. Meski pertanyaannya bisa dijawab dengan benar. “Hari ini (6/12) nggak boleh minta sepeda ya,” ujar Jokowi saat menghadiri peringatan 1 abad Madrasah Mu’allimin-Mu’allimaat Muhammadiyah Jogjakarta.

Kalimat Jokowi ditujukan bagi Endrawan Diko, salah seorang santri Mu’allimin. Dan Azizah Nadhir, santriwati Mu’allimaat.

“Ini ngetes, kalau tadi mendengarkan (pidato, Red) pasti bisa jawab,” tuturnya.
Jokowi minta Diko menyebutkan macam-macam infrastruktur dan manfaatnya. Diko menjawab: jalan tol, pelabuhan, bandara, dan jembatan. Manfaatnya memudahkan mobilitas antardaerah dan sebagai sarana mempersatukan bangsa. Benar. “Diko ini pintar banget,” puji Jokowi. Sedangkan kepada Azizah, Jokowi minta disebutkan beberapa suku dan pulau yang ditinggali. “Suku Jawa di Pulau Jawa, Batak di Sumatera, Bugis di Sulawesi,” jawab Ica, sapaan Azizah.

Meski tak membagi sepeda, Jokowi menyerahkan hasil fotonya bersama Diko dan Ica. Dicetak langsung di lokasi. Tak dapat sepeda bukan masalah bagi Diko dan Ica. Mereka mengaku sangat senang bisa bersalaman dan berdialog dengan presiden.

Adapun dalam kunjungan kerja kali ini Jokowi mengajak beberapa menteri. Di antaranya, Mensesneg Pratikno, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Mendikbud Muhadjir Effendy.

Jokowi menyampaikan pentingnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Seperti jalan tol, bandara, jalur kereta api, pembangkit listrik, dan pelabuhan.
“Kalau tidak ada bandara di Jogja, orang harus naik mobil yang membutuhkan waktu sekitar 8 jam dari Jakarta. Kalau ada bandara lama perjalanan dengan pesawat hanya 50 menit,” katanya.

Jokowi menegaskan, pembangunan infrastruktur bukan semata-mata untuk kebutuhan ekonomi. Tapi juga penting untuk bersaing dengan negara lain. Dan memperkokoh persatuan bangsa.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, momentum 1 abad Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah menjadi tonggak sejarah madrasah Muhammadiyah dalam transformasi kualitas. Sehingga kampus tersebut bisa melahirkan kader-kader bangsa. Kader umat yang punya karakter akhlakul karimah. “Ilmunya mencerahkan. Bukan sekadar agama ritual, melainkan yang membentuk keadaban diri,” tuturnya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X turut menyampaikan pesan kepada pengurus madrasah Muhammadiyah. Agar dapat menjaga karakter yang humanis dan akhlakul karimah. “Saya yakin dan percaya, madrasah Muhammadiyah cerdas memaknai tema sesuai visinya,” ungkapnya. (tif/yog/fn)