JOGJA – Komunitas Jawa Sastra berdiri Mei 2017. Mereka aktif tentang kebudayaan Jawa. Bahasa, mitos, fenomena, hingga sayembara. Baru-baru ini sayembara unik diadakan, yakni #sayembaramisuh2018.

Sekitar 170 peserta memposting berbagai video kreatif mereka di Instagram mengikuti sayembara tersebut. Beberapa kalangan menganggap misuh atau mengumpat dianggap negatif. Tapi Fajar Laksana dan Sri Suryani, founder Jawa Sastra, menilai misuh punya esensi kuat di baliknya.

‘’Budaya itu harus diterima menyeluruh. Kami mengajak masyarakat menerima baik ajaran yang dianggap baik, dan buruk sebagai satu bagian dari budaya, khususnya Budaya Jawa. Tapi bukan berarti menaifkan yang buruk. Budaya itu utuh, satu kesatuan,” jelas Fajar.

Satu kesatuan itu menjadi dasar Jawa Sastra. Dulu, ide mendirikan komunitas ini karena berbagai keresahan. Salah satunya, tidak adanya komunitas, atau akun Instagram berkonsep Budaya Jawa.

‘’Komunitas dan akun Instagram tentang Budaya Jawa berdiri sendiri-sendiri. Satu berisi full gojekan, satunya serius dengan coraknya yang teoritis. Akhirnya audience-nya terpisah,’’ katanya.

Kecenderungannya, yang lebih suka gojekan, akun serius ditinggal, tidak ada yang baca. ‘’Padahal kedua aspek tersebut dapat dikolaborasikan. Maka Jawa Sastra ada. Kami berkonsep keduanya. Jokes iya, serius iya,” tambahnya.

Yani, sapaan Sri Suryani menuturkan, Jawa Sastra punya misi membawa Budaya Jawa menjadi sesuatu yang pop. Mereka boleh tertarik budaya lain, tapi harus tetap bangga akan Budaya Jawa.

‘’Budaya Jawa sebagai budaya nenek moyang ini tidak boleh ditinggalkan. Jangan sampai enggak paham budaya sendiri, eman, nanti hilang,” katanya.
Melalui Jawa Sastra, Yani menularkan semangat menggunakan kaca mata Budaya Jawa untuk membaca zaman. Menggunakan zaman untuk memahami Budaya Jawa. Intinya, kolaborasi.

Jawa Sastra pernah mengadakan Ekspedisi Sastra Jawa. Diadakan di Desa Sidorejo, Kulonprogo. Mendokumentasikan sastra lisan di desa tersebut, mendatangkan peserta luar Jogja untuk datang.

‘’Sidorejo dipilih karena dalam satu desa ada tiga makam sesepuh desa dengan periodisasi berbeda. Keberadaannya kemudian membuat desa ini kaya akan cerita rakyat,’’ kata Yani.

Cerita-cerita tersebut dijadikan buku lalu diletakkan di Perpustakaan SD Sidorejo. Dengan menerbitkannya dalam buku, cerita rakyat tersebut tidak akan hilang. ‘’Bisa diteruskan oleh generasi selanjutnya,” jelas Fajar.

Kedua mahasiswa jurusan Sastra Jawa UGM ini berharap komunitas Sastra Jawa bisa menginspirasi komunitas lain untuk muncul. Menurut Fajar ada berbagai macam budaya di Indonesia yang tidak boleh hilang. Anak mudanya harus mau bergerak, berkreasi sesuai perkembangan zaman dalam proses menularkan budaya tersebut. (ata/iwa/fn)