Penantian 11 tahun itu akhirnya tuntas. Sama seperti kerinduan. Harus dibayar lunas. Penggawa PSS Sleman berhasil membawa Super Elang Jawa “terbang” ke Liga 1. Kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

POSTUR tubuh pemain bernomor punggung 23 PSS Sleman tidak terlalu besar. Namun jangan salah. Kepiawaiannya menggocek si kulit bundar termasuk di atas rata-rata. Dialah Ichsan Pratama, sang kreator lini tengah Super Elang Jawa.

Penampilan tenangnya dalam setiap laga Laskar Sembada menjadi jaminan permainan ciamik. Dia cerdas membuka ruang. Untuk memanjakan para penyerang di lini depan. Menjadikan ujung tombak Elja lebih mudah mendapatkan posisi ideal. Untuk menceploskan si kulit bundar ke jala lawan.

Ichsan selalu tampil konsisten. Selama kompetisi Liga 2-2018. Penampilan apik pria kelahiran 18 Januari 1992 itu pun berbuah manis. Dia diganjar sebagai pemain terbaik musim ini. “Dari awal tidak ada kepikiran pemain terbaik. Yang penting terus berusaha. Memberikankontribusi maksimal untuk tim,” ujar Ichsan di sela perayaan kemenangan Super Elja di Lapangan Pemkab Sleman Kamis (6/12).

Selama mengikuti kompetisi hanya satu target yang ingin diraihnya. Berlaga di Liga 1 bersama Super Elja. Dan itu terbukti. Musim ini. Pria murah senyum itu tak menghilangkan peran pelatih, staf, dan manajer PSS. Serta dukungan pemain lain. Sehingga dia bisa berkontribusi untuk tim dengan baik. Pun demikian dukungan para suporter. “Tidak ada rahasia (jadi pemain terbaik, Red). Hanya mengikuti instruksi dan memaksimalkan kepercayaan pelatih,” ungkapnya.

Di PSS, peran Ichsan di lini tengah memang sangat vital. Tanpa dia, Elang Jawa seperti kelimpungan. Namun Ichsan tetap menjadi pribadinya. Selalu rendah hati. Mengaku tak punya resep khusus. Yang ada dalam benaknya hanya berjuang semaksimal selama 90 menit laga. “Saya selalu menyempatkan telepon orang tua sebelum bertanding,” kata Ichsan yang mengaku dekat dengan sang ibu.

Peran keluarga memang sangat krusial bagi perjalanan karir pemain kidal itu. Terutama peran sang ibu. Yang selalu menjadi tempat curhat.

Sebelum berlabuh di PSS, Ichsan pernah memperkuat PSPS Pekanbaru. Namun PSS-lah tim impiannya. Yang ingin dibelanya sejak lama.

Dia merasa atmosfer sepak bola di Sleman sangat luar biasa. “Pertama kali datang (di Sleman, Red) saat itu masih berseragam Pekanbaru. Saya kepikiran kapan bisa main di Sleman,” ungkapnya.

Mimpi itu akhirnya terwujud. Saat musim 2018 bergulir setengah jalan. Dia bisa menjadi bagian sejarah PSS. Musim depan, Ichsan berharap tetap dipertahankan oleh manajemen. “Hati saya sudah di Sleman,” tegasnya.

Bagi Ichsan, kehadiran suporter, Slemania maupun Brigata Curva Sud (BCS) ibarat bahan bakar. Pengobar semangatnya. Ichsan pun menempatkan suporter pada posisi yang spesial. “Loyalitas suporter PSS luar biasa. Home atau away mereka selalu hadir. Ini yang membuat kami selalu bersemangat saat bermain,” ucapnya.

Dalam euforia juara dan promosi Liga 1 Ichsan merasa bersedih. Lagi-lagi karena sikap rendah hatinya. Dia merasa tak bisa membalas dukungan suporter. Yang tak ternilai.”Yang bisa saya berikan adalah promosi ke Liga 1 dan Juara Liga 2. Terimakasih telah mendukung perjuangan kami,” katanya.

Ichsan berharap suporter Elja tetap kreatif dan mendukung perjuangan PSS di liga kasta tertinggi Indonesia. Musim depan. (yog/fn)