BANTUL – Program Bantul smart city sudah di depan mata. Ada banyak perubahan yang bisa diharapkan dari program yang akan digulirkan pemkab mulai 2019 ini. Mulai pelayanan masyarakat di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang serbacepat, area wifi publik, hingga terwujudnya rumah milenial.

Dimulainya era baru itu ditandai dengan evaluasi bimbingan teknis (bintek) yang diikuti Pemkab Bantul. Ya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bakal melakukan evaluasi terhadap hasil empat kali bimbingan teknis (bintek) pertengahan bulan ini di Tangerang. Ada 50 pemkab/pemkot se-Indonesia yang mendapatkan bintek ini. Salah satunya Pemkab Bantul.

”Evaluasi ini untuk mengetahui hasil bintek seperti apa,” jelas Suharsono saat ditemui di rumah dinas bupati Bantul belum lama ini.

Karena itu, dalam evaluasi ini Suharsono bakal mempresentasikan beberapa quick win OPD. Tiga di antaranya bersifat wajib. Yaitu, jejaring pengelolaan sampah mandiri (JPSM), jelajah Bantul, dan lapor Bantul. Tiga quick win ini dipilih lantaran mudah direalisasikan sekaligus mampu menjadi daya ungkit bagi program-program lain. JPSM, contohnya. Program dinas lingkungan hidup ini merupakan bentuk kolaborasi pemkab dan pemdes dalam menangani sampah di setiap desa. Sedangkan lapor Bantul untuk memfasilitasi masyarakat menyampaikan keluhan-keluhan di lingkungannya.

”Dan output bintek ini adalah pemkab harus bisa menyusun masterplan smart city,” ucapnya.

Dalam masterplan, Suharsono menyebut ada beberapa hal yang disinggung. Antara lain, suprastruktur, seperti berbagai kebijakan pemkab. Berikutnya, struktur. Itu di antaranya berupa sumber daya manusia dan pendanaan. Lalu, infrastruktur. Itu meliputi infrasruktur teknologi informasi dan infrastruktur sosial.

”Sebab, smart city tidak melulu berkaitan dengan TI. Tapi, juga non-TI,” ujarnya.

Kendati sudah di depan mata, Suharsono memastikan pemkab siap untuk menatap era smart city. Alasannya, berbagai persiapannya telah komplet. Infrastruktur, misalnya. Pemkab saat ini tidak hanya memiliki wireless data dan jaringan internet dengan fiber optik. Lebih dari itu, beberapa wilayah di Bumi Projotamansari yang berada di wilayah perbukitan juga telah memiliki radio wireless.

”Karena berada di titik blank spot, sehingga difasilitasi dengan wireless,” tambahnya.

Kesiapan infrastruktur juga ditandai dengan disaster recovery center (DRC). Saat ini, Suharsono mengatakan, pemkab telah memiliki perangkat yang berfungsi sebagai back up data tersebut. Perangkat ini rencananya bakal ditempatkan di luar Pulau Jawa.

”Pada awal 2019 akan dipasang,” kata Suharsono merahasiakan nama lokasi penempatan DRC.

Suharsono menekankan, perangkat ini penting. Itu untuk mengantisipasi terjadinya berbagai hal yang tak diinginkan. Misalnya, bencana alam. Yang menarik, DRC tidak hanya mem-back up seluruh database dan berbagai aplikasi penting. Melainkan juga berfungsi sebagai data center.

”Sehingga pemkab punya dua data center. Yang satu di Diskominfo. Satunya DRC,” tuturnya.

Atas dasar itu, Suharsono meminta OPD berlomba-lomba untuk mencetuskan berbagai inovasi pelayanan. Sebab, smart city di antaranya bertujuan untuk mempercepat  pelayanan yang berujung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

”Semua harus serbacepat dan serbaefisien. Begitu juga dengan pelayanan masyarakat,” tegasnya.

Wifi Publik di Lapangan Paseban dan Pasar Bantul

Selain di pemerintahan, program smart city juga bakal dinikmati langsung masyarakat. Menurutnya, ada dua titik di wilayah Bantul kota yang terpasang wifi publik pada 2019. Yaitu, Lapangan Paseban dan Pasar Bantul. Dua lokasi itu dipilih lantaran berpotensi berkembang. Lapangan Paseban, contohnya. Saat ini telah berkembang menjadi pusat perekonomian baru.

”Smart city mendorong pertumbuhan ekonomi baru di Paseban,” kata Suharsono menyebut khusus pemasangan wifi publik di Pasar Bantul difasilitasi Pemprov DIJ.

Tempat lain yang telah terfasilitasi wifi publik adalah pendapa kecamatan. Dia menyebut 17 kecamatan se-Bantul telah menyediakan area wifi gratis. Namun, waktu pengunaannya dibatasi. Mulai pukul 08.00 hingga pukul 20.00.

Pembatasan itu untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif. Kemudian, objek wisata Kaki Langit, Mangunan juga telah terpasang wifi gratis.

”Beberapa sentra UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) juga ada wifi publik. Difasilitasi BUMN,” sambungnya.

RUMAH PUBLIK: Bupati Bantul Suharsono (kanan) didampingi Kepala Diskominfo Bantul Nugroho Eko Setyanto meneken tombol dalam layar tab beberapa waktu lalu. Itu sebagai penanda launching Lapor Bantul

Ketika disinggung mengenai rencana jangka panjang, pensiunan perwira menengah Polri ini menyebut banyak. Salah satunya rumah milenial. Bentuknya, berupa bangunan yang nyaman untuk berkreasi.

Secara detail, Suharsono mengilustrasikan, rumah milenal tidak hanya difasilitasi dengan wifi gratis. Lebih dari itu, juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas lainnya. Seperti coffe shop. Rumah milenial juga didesain supernyaman. Lantaran tidak semua pengunjung bisa masuk. Hanya pengunjung yang memiliki member.

”Harapannya, banyak muncul startup baru melalui rumah milenial,” tambahnya. (*/zam/fn)