PURWOREJO – Penanganan kecelakaan air baik karena bencana banjir maupun terseret arus air, membutuhkan kecakapan khusus. Tanpa penguasaan dasar pertolongan yang baik, tak jarang membuat orang yang hendak menolong malah turut menjadi korban.

Palang Merah Indonesia (PMI) Purworejo yang menaungi keberadaan Korps Sukarela (KSR) dari berbagai perguruan tinggi di Purworejo, berusaha memberikan bekal skill bagi anggota KSR. Harapannya mereka siap diturunkan saat terjadi kecelakaan air.

Kegiatan yang dipusatkan di Telaga Jembagan, Kabupaten Kebumen, ini diikuti 70 peserta dari KSR kampus di Purworejo, Selasa (4/12). Mahasiswa diberikan bekal kemampuan dasar serta praktik di lapangan, di mana kegiatan ini melibatkan instruktur dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo.

“Peningkatan kemampuan pertolongan air kami rasa sangat perlu. KSR kami harapkan juga bisa menguasai teknik-tekniknya di lapangan, makanya kami mengajak mereka untuk meningkatkan kemampuan tentang water rescue,” kata Kepala Markas PMI Purworejo Supangkat.

Menurutnya, Purworejo yang memiliki berbagai ancaman bencana, termasuk di dalamnya bencana banjir, membutuhkan tenaga-tenaga handal di lapangan. Dan hal mendasar yang harus dikuasai oleh anggota KSR adalah kemampuan untuk berenang.

Instruktur BPBD Purworejo Iman Ciptadi mengatakan, pihaknya memberikan bekal pelatihan tentang water rescue dan safety recue. Dalam hal ini, peserta kegiatan diberikan pemahaman tentang penyelamatan dan pertolongan air.
“Secara prinsip mereka harus memahami dulu tentang penyebab korban tenggelam, dan upaya pertama yang harus dilakukan saat hal itu terjadi,” ujar Ciptadi.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum seorang penolong akan terjun ke lapangan. Setidaknya beberapa teknik yang harus ditempuh, di mana sebelumnya ada pemilihan korban dimungkinkan masih hidup atau sudah meninggal.

“Hal lain yang tidak kalah penting adalah penguasaan kemampuan mengendalikan perahu. Ini memberikan pengetahuan dasar, baik teori dan praktik, karena sekadar naik perahu dan naik perahu untuk melakukan pertolongan itu jelas berbeda,” tambah Ciptadi. (udi/laz/fn)