JOGJA – Banjir di wilayah Terban dan Sagan Kota Jogja Senin (3/12) akibat aliran Sungai Belik meluap bukanlah masalah baru. Bahkan menjadi bencana tahunan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Hary Wahyudi tak menampik hal tersebut. Kendati demikian, Hary mengklaim, warga dua wilayah tersebut sudah cukup terbiasa.

Menurutnya, keberadaan Embung Langensari cukup bisa meminimalisasi dampak banjir. Namun embung tetap saja tak mampu menampung curah hujan yang tinggi.

“Banjir di Kota Jogja akan surut dengan waktu singkat. Tapi tetap jadi perhatian kami,” ujarnya Selasa (4/12).

Sementara itu, hujan deras di Sleman mengakibatkan tanah longsor di kawasan padat penduduk di Desa Sinduadi, Mlati. Dua rumah rusak parah. Di Blunyah Gede dan Karangjati. Tak ada korban jiwa.

Ketua RT 05/RW 32 Blunyah Gede Samidi mengungkapkan, derasnya aliran air hujan menggerus fondasi rumah setinggi 4 meter dan mengakibatkan longsor. “Itu fondasi bukan untuk konstruksi bangunan. Hanya penahan tanah,” katanya. Longsoran material lantas menghantam dua rumah yang berada di bawahnya. Dua kamar rumah jebol.

MBLUDAK: Sungai Winongo meluap di sekitar Jalan Jambon Kelurahan Kricak, Tegalrejo, Kota Jogja sekitar pukul 17.00 Selasa (4/12). (INFO CEGATAN JOGJA)

Menurut Samidi, bencana itu akibat minimnya drainase. Sehingga daerahnya rawan banjir ketika hujan lebat. Selain itu posisi rumah berada pada dataran yang lebih rendah. Sehingga potensi tanah longsor semakin besar.
Masalah drainase diduga juga menjadi penyebab banjir di Karangjati. Tepatnya dialami Santi Melia, 32, warga Karangjati RT 19/RW 42. Tembok rumahnya ambrol. “Sebelumnya hujan deras selutut,” katanya.

Lokasi rumah Santi berada di dataran paling rendah. Sehingga langganan banjir tiap hujan. Apalagi di ujung gang hanya ada dua lubang kecil untuk saluran pembuangan. Masing-masing berdiameter 15 cm. “Debit air yang besar dan lubang buangan kecil menyebabkan tembok rumah retak dan merembet ke dinding dapur. Ambrol,” keluhnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman Makwan mengatakan, potensi longsor tanah tersebar di kawasan pegunungan. Seperti Gamping, Godean, Seyegan, Prambanan, dan Cangkringan. “Empat desa di Prambanan menjadi perhatian utamanya. Yakni Sumberharjo, Gayamharjo, Sambirejo, dan Wukirharjo.(cr5/har/yog/fn)