Komunitas Banyu Bening terus mengajak masyarakat memanfaatkan air hujan. Ajakan itu disampaikan karena air hujan tak mengandung bakteri, bahan kimia maipun logam berat. Karena itu, air hujan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya minum dan masak.

“Air hujan selama ini dibuang sia-sia. Padahal air hujan itu anugerah Tuhan yang bersih dan menyehatkan,” ungkap Ketua Komunitas Banyu Bening Sri Wahyuningsih di sela Kenduri Banyu Udan di pendapa rumah dinas bupati Sleman Selasa (4/12).

Kenduri Banyu Udan itu merupakan upaya komunitas yang berpusat di Dusun Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Komunitas ini sejak 2013 giat mengkampanyekan pemanfaatan air hujan. Pemanfaatan itu disebutkan sebagai tindakan memanen air hujan. “Nenek moyang kita telah mengajarkan perlunya menabung air hujan,” katanya.

Kenduri Banyu Udan yang didukung Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas PUP dan ESDM DIY dikemas dalam rangkaian ritual budaya. Tujuannya agar menarik antusiasme masyarakat. Itu ditandai dengan kirab bregada dan pementasan tari Pujiastuti. Kenduri itu sudah diadakan kali ketiga. “Ini acara satu-satunya di Indonesia. Kami fokus mengkampanyekan pemanfaatan air hujan,” terang perempuan yang akrab disapa Bu Ning ini.

Kepala Desa Sardonoharjo Harjuno Wiwoho mengatakan, substansi Kenduri Banyu Udan itu demi membangun kesadaran masyarakat memanfaatkan air hujan seoptimal mungkin. Karena itu, harus ada kesadaran dari semua pemangku kepentingan mulai masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah.

“ Kenduri Banyu Udan ini bisa menjadi kegiatan promosi pariwisata sekaligus ikon Kabupaten Sleman,” kata Harjuno yang juga bertindak sebagai ketua panitia.

Di tempat sama, Sekda Kabupaten Sleman Sumadi mengingatkan, Sleman menjadi kawasan penyangga sekaligus tumpuan resapan air di DIY. Khususnya bagi Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. “Masyarakat harus memiliki kesadaran u menjaga kelestarian alam di sekitarnya,” ajak Sumadi.

Dikatakan, air merupakan sumber kehidupan yang vital. Namun demikian, air bersih semakin lama semakin sulit dijumpai. Terutama di kawasan perkotaan. Air di sumber-sumber perkotaan mulai tercemar gara perilaku manusia. Ini mengakibatkan rusaknya ekosistem, kelestarian alam dan timbulnya barbagai macam penyakit.

Menyikapi itu, Pemkab Sleman berupaya melakukan konservasi sumber daya air. Saat ini Sleman mempunyai 21 embung. Sebanyak sepuluh unit embung milik Pemkab Sleman dan sisanya sebanyak 11 unit embung dibangun Pemda DIY.“Kami juga mengadakan konservasi dalam bentuk vegetatif berupa penanaman pohon, di pinggir sungai, halaman rumah dan lokasi lainnya,” terang mantan Inspektur DIY ini.

Dalam kesempatan itu juga diadakan penandatanganan Komitmen Memanen, Memanfaatkan dan Menabung Air Hujan. Komitmen ditandatangi oleh semua tamu undangan yang hadir. (ita/kus/fn)