BANTUL – Sebanyak 30 pecatur putra dan 13 putri dari perguruan tinggi negeri dan swasta di DIJ bertanding dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) DIJ 2018 Senin (3/12). Mereka berasal dari 16 perguruan tinggi di DIJ.

“Peserta sangat minim. Padahal di DIJ ada 110 perguruan tinggi. Ke depan, perlu ditingkatkan lagi agar peserta lebih banyak,’’kata Ketua Panitia POMDA DIJ Cabang Catur Dedi Pramono Senin (3/12). Cabor catur digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus IV.

Meski belum memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Catur, UAD berani menjadi tuan rumah untuk mendorong mahasiswa mempunyai semangat berolahraga dalam bentuk dan cabang apapun.“Tapi mahasiswa kami bisa mendapatkan medali emas dan perak dalam kejuaraan yang lalu,” terangnya.

Jumaryanto selaku wasit mengatakan peserta POMDA DIJ hanya mahasiswa PT yang tergabung dalam Badan Pembina Olahraga Mahasiswa (BAPOMI) DIJ. Sebab jika atlet lolos ke Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), akan maju bukan atas nama kampusnya melainkan BAPOMI DIJ.

Perwakilan BAPOMI Bidang Kerjasama Aprida Agung menambahkan, ajang ini bukan menjadi indikator satu-satunya untuk maju ke POMNAS. “Dilihat perkembangannya, kalau bagus dan memang layak akan dikirim ke POMNAS tahun depan di Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan beberapa atlet catur dari PT di DIJ sudah ada yang masuk ke level master. Seperti dari UGM dan UNY. Namun pertandingan ini untuk memfasilitasi atlet pemula atau belum master. “Ini sebagai batu loncatan untuk yang belum master,” tambah Aprida.

Peserta catur merupakan mahasiswa dari Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Kristen Immanuel (UKRIM), Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNas), Universitas Widya Mataram (UWM), Akademi Perindustrian, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKPN, STIMIK Akakom, Universitas Mercu Buana (UMB), Politeknik LPP, Stikes Bethesda Yakkum, Akademi Pertanian, dan Akademi Keperawatan (AKPER) Notokusumo.

Menurut Wakil Rektor III UAD Abdul Fadlil, kemampuan mengatur strategi dalam catur sangat dibutuhkan generasi milenial. Dia mengatakan, untuk menjadi UKM, harus melalui beberapa proses.Berawal dari komunitas kecil, melengkapi administrasi seperti AD/ART, dan sebagainya.”Ini jadi komunitas pun belum, masih individu-individu, pembinanya pun belum,” ungkapnya.

Selain itu ditetapkan melalui persetujuan kongres mahasiswa. Kemudian baru menjadi UKM percobaan selama dua tahun. “Kalau sudah lengkap dan ada regenerasinya, baru ditetapkan jadi UKM,” tandasnya. (sce/tif/din/fn)