PAKANSARI – Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kecintaan pada klub tercinta. Salah satunya yang dilakukan Septyadi Pityanta, 32. Warga Warak, Cebongan, Sleman itu berangkat menyaksikan partai final Liga 2 antara PSS versus Semen Padang dari Sleman ke Pakansari dengan bersepeda.

“Iseng aja coba ingin refreshing sepedaan. Sudah biasa sepedaan juga. Mumpung PSS final di Bogor saya ingin coba area Bogor seperti apa jalurnya. Saya putuskan bersepeda dari Jogja ke Pakansari lewat jalur tengah,” katanya kepada Radar Jogja, Selasa (4/12).

Septyadi berangkat pada Jumat (30/11) pagi pukul 09.00 WIB. Jarak yang ditempuh dari titik awal hingga Stadion Pakansari sejauh 565 kilometer.  Dengan melewati rute Sleman, Gombong, Cilacap, Ciawi, Bandung, Cianjur, Bogor, Septiyadi akhirnya sampai di Pakansari pada Senin (3/12) jam 15.00 WIB.

Perjalanan tersebut baginya bukan sesuatu yang baru. Karena itu dia mengaku tidak melakukan persiapan khusus. Sebab bersepeda sudah jadi hobinya sehari-hari. Dia mengaku pernah hampir 24 jam nonstop bersepeda dari Sleman ke Malang, Jawa Timur. Tepatnya 23 jam 10 menit. “Sepedaan terjauh ke Lombok, total 12 hari,” ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sport organizer itu.

Karena itu, medan yang sulit tidak menjadi kendala yang berarti. Termasuk juga hujan yang mulai turun akhir-akhir ini. Bahkan, jika tidak terlalu deras akan terus diterjangnya. Kesulitan yang menurutnya cukup menghambat lajunya hanya kondisi arus lalu lintas yang macet. “Sempat mengalami macet di arah Cipanas turun dari Puncak ke Bogor,” bebernya.

Di sela-sela perjalanannya, dia mendengar adanya pengunduran jadwal. Ketika itu dia sudah bersepeda sampai di Gombong, Kebumen. Beberapa teman memintanya kembali ke Sleman sambil menunggu kepastian. Namun dia menghubungi temanya di PT. LIB untuk menanyakan kejelasan jadwal. Setelah tahu bahwa venue tetap sama dan hanya diundur sehari, dia lalu tetap melanjutkan perjalanan.

“Ketika ada mundur sehari saya gunakan lebih santai untuk menikmati perjalanan. Sempat mampir nginep dan kulineran di Bandung. Selama perjalanan berhenti istirahat di Gombong dan Ciawi di penginapan,” katanya.

Perjalanan jauh apalagi dengan bersepeda dengan meninggalkan keluarga tentu membuat istrinya khawatir. Sang istri bahkan sempat menyarankan untuk naik kendaraan bersama rekan-rekannya saja. Namun dia dapat meyakinkan istri dengan berjanji selalu memberikan kabar setiap 50 kilometer. Selain itu, juga karena sang istri sudah tahu hobinya bersepeda jarak jauh.

“Sempat khawatir, tapi akhirnya dapat izin juga. Sebagai balasannya setiap berhenti 50 kilometer saya share dan kasih kabar ke keluarga biar bisa monitor juga,” ungkapnya.

Selama perjalanan nggak takut dibegal ? Untuk tetap aman, dia mengaku membatasi perjalanan di daerah yang baru di atas jam sembilan malam dan harus berhenti. Kecuali di daerah yang pernah dilewati. (riz/sam)