Berbagai destinasi wisata terus dikenalkan Pemkab Magelang melalui Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora). Semuanya mengarah pada upaya menambah lama tinggal wisatawan di Kabupaten Magelang. Seperti saat menggelar Festival Kampung Gunung Telomoyo Reborn, akhir pekan lalu

FRIETQI SURYAWAN, Mungkid

Tahun ini Pemkab Magelang getol menggelar even yang memadukan unsur seni tradisional dan milenial, ditambah kegiatan yang mengangkat usaha menengah kecil dan mikro (UMKM). Mereka ingin destinasi wisata yang ada bisa dikunjungi dan belanja produk makanan-minuman serta kerajinan. Seperti kegiatan yang digelar di Bukit Telomoyo, Pandean, Ngablak, sejak Jumat (30/11) hingga Minggu (2/12).

“Sesuai temanya, Telomoyo Reborn, keberadaan Telomoyo kembali hadir dengan konsep yang lebih tertata agar wisatawan milenial bisa lebih lama tinggal di Kabupaten Magelang,” kata Kepala Disparpora Pemkab Magelang Iwan Sutiarso, kemarin.

MERIAH: Bupati Magelang Zaenal Arifin yang membuka Telomoyo Reborn sempat hadir dalam konser musik Jumat Malam. Foto kanan, Telomoyo Costum Carnival menampilkan 15 tokoh pewayangan dan kerajaan Jawa. (FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA)

Selama tiga hari berbagai kegiatan digelar. Mulai dari senam yang diikuti sekitar 2.000-an kader PKK dan anak-anak tingkat PAUD & TK se-Kecamatan Ngablak. Kemudian lomba drum blek, kesenian tradisional, Telomoyo Costume Carnival, akrobatik paralayang, dan lainnya. Juga penampilan musisi Nufi Wardhana dan grup band Guyon Waton.

“Gunung Telomoyo tidak hanya menawarkan wisata petualangan dan keindahan alam saja, namun wisatawan juga dapat berinteraksi dengan penduduk sekitar melalui homestay yang sudah tersedia. Telomoyo satu-satunya gunung yang bisa dilalui menggunakan kendaraan sampai puncak. Telomoyo juga satu-satunya gunung yang digunakan untuk kegiatan olahraga paralayang dan gantole di Jawa Tengah,” ungkap Iwan.

Sisi lain yang menarik dari even ini, lanjut Iwan, adalah interaksi tanpa batas antara wisatawan, warga, dan pelaku seni usaha. Segala usia bisa menyaksikan konser musik, atau sekadar menikmati suguhan kesenian tradisional sambil menikmati jajanan dusun di antara hawa sejuk alam nan menawan. Alasan festival dilaksanakan malam hari, adalah upaya untuk menambah lama tinggal wisatawan di Kabupaten Magelang.

“Karena lama tinggal wisatawan ini otomatis akan menambah kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya di Ngablak. Harapannya, melalui festival ini wisata Telomoyo dapat kembali dimunculkan dengan konsep yang lebih baik dan menarik, khususnya kepada para wisatawan milenial,” tuturnya.

Dalam festival itu, panitia bekerja sama dengan pihak Desa Pandean untuk menyiapkan homestay. Setidaknya disiapkan 50 kamar milik warga yang bisa ditinggali para wisatawan. Hasilnya, semua kamar terisi.

“Kami jual Rp 200 ribu per homestay, dengan fasilitas tempat tidur untuk maksimal empat orang dan sarapan ala menu ndeso. Homestay kami pilih dari rumah-rumah warga yang layak untuk dihuni tamu. Tentunya dengan syarat bersih dan nyaman, ditambah keramahan,” ungkap Bayu, salah seorang panitia.
Bupati Magelang Zaenal Arifin sempat membuka festival ini dan hadir dalam konser musik Jumat Malam. Dia menilai festival tersebut ada karena cinta. Karena dengan cinta, maka kedamaian dan keindahan mudah tercipta.

“Karena cinta menyatukan kita semua dari setiap perbedaan yang ada. Secara khusus saya ingin mendengar lagu Aku Milikmu milik Dewa,” ujar orang nomor satu di Kabupaten Magelang ini.

Tembang Aku Milikmu milik Dewa, sempat dibawakan bintang tamu Nufi Wardana. Suasana dingin dan berkabut seolah terhipnotis dengan tampilan musisi perempuan yang banyak mencover lagu milik Dewa itu.

Bagi Zaenal Arifin, ‘Telomoyo Reborn memiliki makna luas antara interaksi manusia dan alam. Agar senantiasa bersyukur terhadap anugerah Tuhan YME dengan terus berkarya mewujudkan mimpi besar untuk kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap kita senantiasa berkerja keras bersama. Seperti anak-anak muda saat ini memunculkan ide-ide besar dengan spirit semangat mereka melahirkan kembali Telomoyo agar dikenang di seluruh jagad alam semesta dan meningkatkan ekonomi masyarakatnya,” harapnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus pegiat pariwisata Ngablak, Mul Budi Santoso mengatakan, festival ini mampu membangkitkan kebersamaan masyarakat dengan pemerintah daerah dalam pemberdayaan wisata desa. Masyarakat bisa dibangkitkan untuk mengembangkan potensi yang ada. Harapannya, Festival Telomoyo bisa dilaksanakan tiap tahun, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya.

“Jadi Telomoyo ini sebagai salah satu potensi wisata yang ada di Kabupaten Magelang yang sudah sangat lama menjadi legenda. Dengan keterpihakan pemerintah saat ini, untuk selalu mengembangkan potensi wisata yang ada, Telomoyo sudah bangkit kembali,” tandas Mul Budi.

Dalam kegiatan Telomoyo Costum Carnival diisi dari Salatiga Iconic Costume (SIC) dan Ambarawa Costume Carnival (ACC). Mereka menampilkan 15 tokoh yang menggambarkan ikon kisah pewayangan dan kerajaan Jawa seperti Jatayu, Roro Jonggrang, Garuda Wibawa dan lainnya. Kemudian saat parade paralayang, setidaknya ada 10 peserta sempat mengudara dan turun di depan panggung utama. (laz/fn)