Tinggal di kawasan berlabel kumuh ternyata tak membuat semua warganya merasa risih. Dhoris Setiawan, salah satunya. Menurut dukuh Sumbermulyo, Kepek, Wonosari, Gunungkidul itu, label kumuh justru menjadi berkah bagi wilayahnya. Itu tentu bukan tanpa alasan. Itu berkat peran pemerintah pusat dan kabupaten dalam pembangunan infrastruktur di Sumbermulyo. Agar wilayah ini terlepas dari predikat kumuh.

“Sekarang kami punya Gunungkidul Agro Technopark (GAP). Progresnya berupa layanan kesehatan, perkebunan buah, industri tahu, hingga peternakan ikan dan sapi,” ujarnya.

Berkah kekumuhan juga dirasakan Dukuh Brajan, Tamantirto, Bantul Wiji Wiyono. Wilayah tempuran RT 08, Brajan yang dulu dicap kumuh kini tampak wajah baru. Dikembangkan sebagai destinasi wisata alternatif. Selain perbaikan lingkungan, kini ada jalan tembus dari kampung menuju jalan desa. Sungai desa juga akan dibersihkan. Mulai Brajan sampai Kasongan. Bahkan saat ini sudah ada kantor sebgai fasilitas wisata arung jeram. Juga gazebo-gazebo bagi lapan dagangan warga setempat. “Program ini sangat membantu masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan,” katanya bangga.

Sementara itu, Sarjuni,48, yang tinggal di bantaran Kali Gajahwong di Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman punya pandangan lain. Dia menilai, kumuh tidaknya suatu kawasan tergantung sudut pandang masing-masing.
“Bagi saya, rumah saya ini bukan berada di kawasan kumuh. Tapi kalau pemerintah bilang ini kumuh ya silakan saja,” ucapnya.

Sarjuni mengaku siap direlokasi. Asal tempat relokasi tidak terlalu jauh. Dari rumahnya saat ini. “Kami tidak keberatan asal pemerintah jangan asal gusur,” pintanya.

Beda lagi pemikiran Tukiman,59. Warga Bener, Tegalrejo, Kota Jogja, itu tak pernah menyoalkan status kumuh di wilayah tinggalnya. Yang terpenting baginya asal punya tempat tinggal dan penghasilan untuk menafkahi keluarga.

“Sudah terbiasa begini adanya. Ya nyaman-nyaman saja. Yang penting masih bisa kerja dan cari makan,” ujarnya. (gun/ega/har/cr5/yog)