BANTUL – Satu lagi cagar budaya di Kabupaten akan mendapatkan penanganan intens. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY berencana meneruskan tahap II pemugaran Pesanggrahan Wanacatur pada 2019. Itu dilakukan lantaran situs yang terletak di Wonocatur, Banguntapan, tersebut sarat dengan nilai sejarah.

“Rencana pembangunan tahap kedua sudah sering dirapatkan,” jelas Kepala Disbud Bantul Sunarto di ruang kerjanya Jumat (30/11).

Menurut Sunarto, pemugaran bertujuan untuk memperkuat kontruksi. Agar proses kerusakan dapat diminimalisasi. Pemugaran juga untuk mengembalikan kondisi situs yang akrab disebut dengan Gua Siluman itu yang mengalami kerusakan. Sebab, kontruksi pagar atau benteng Gua Siluman banyak yang retak. Ada pula yang tak utuh.

Menilik sejarah, Gua Siluman dibangun Sultan Hamengku Buwono II. Yang memerintah mulai 1792 hingga 1810. Situs itu digunakan untuk tempat rekreasi raja beserta keluarganya. Ada juga yang menyebut Gua Siluman merupakan tempat pesiraman (pemandian).

Seperti berbagai situs peninggalan keraton lainnya, ada sumber mata air di dalam Gua Siluman. Persisnya di bilik pesanggrahan. Air dari kolam itu dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Namun, dalam perjalanannya, situs ini sempat tak terawat. Situs bersejarah itu beralih fungsi menjadi saluran pembuangan limbah rumah tangga. Itu terlihat dari banyaknya air yang menggenangi lorong gua. Bahkan, hingga sekarang lorong gua yang akrab disebut Benteng Pendem itu menjadi tempat aliran pembuangan limbah rumah tangga.

Yang lebih memprihatinkan lagi, kolam di sisi selatan dimanfaatkan warga sekitar untuk kolam ikan. Akses pintu masuk menuju pintu masuk situs juga telah tergusur bangunan perumahan.

Dalam rapat koordinasi, Sunarto mengungkapkan, BPCB meminta Pemkab Bantul ikut andil. Sesuai kewenangannya. Yakni, menangani aliran limbah rumah tangga dan menata saluran air hujan. Lantaran kewenangan dan seluruh anggaran pemugaran berasal dari pemprov.

“Lokasinya (Gua Siluman) memang di bawah, sehingga menjadi aliran,” ujarnya.

Kendati begitu, Sunarto meyakini persoalan itu dapat ditangani. Apalagi, situs Gua Siluman memiliki jejak sejarah Keraton Mataram. Dalam sejarah, Gua Siluman merupakan salah satu peninggalan dari perpindahan Keraton Mataram yang semula berada di alas mentaok (sekarang Kotagede). Namun, setelah Gua Siluman dibangun, raja mendapat wangsit untuk membangun keraton di Wonokromo, Pleret, Bantul.

Sunarto tak menampik Kabupaten Bantul memiliki berbagai situs bersejarah. Sebut saja Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, situs Selo Gilang, dan Situs Kerto Pleret. Namun, pengelolaan situs-situs yang menjadi saksi bisu sejarah tersebut berada di tangan pemprov. Kendati begitu, Sunarto memastikan Disbud Bantul ikut mengambil peran dalam menjaga kelestariannya. Sesuai dengan kewenangan dan kapasitasnya.

Anggota DPRD Bantul Gayuh Pramuditha mengatakan, Gua Siluman merupakan salah satu situs kebanggaan warga Kecamatan Banguntapan.

Karena itu, pria dari Banguntapan ini mendorong pemkab segera menangani pembuangan air limbah dan menata saluran air hujan. Sebab, pemugaran tahap II tergantung pemkab. Alias mensyaratkan pemkab turun tangan melakukan action.

“Ketika segera ditangani ya BPCB juga bakal meneruskan pemugaran,” katanya.

Bila pemugaran tahap II selesai, Gayuh meyakini situs Gua Siluman dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Dia juga optimistis Pemerintah Desa Banguntapan bakal meresponsnya dengan mempersiapkan berbagai perencanaan.

“Desa Banguntapan kabarnya siap menyediakan lahan untuk dijadikan wahana yang menyatu dengan Gua Siluman. Lahannya sekitar 9 hingga 10 hektare,” katanya. (*/zam/by/mg3)