SLEMAN – Kisah Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto yang populer di era 1990-an diangkat ke layar lebar lewat arahan Sutradara Yandy Laurens. Dibintangi Ringgo Agus Rahman (Bapak) dan Nirina Zubir (Emak). Ini merupakan film panjang pertama sutradara yang pernah meraih Piala Citra kategori film pendek terbaik.

Yandy Laurens dan Nirina Zubir menyempatkan mampir di Kantor Radar Jogja Jumat (30/11). Berbincang tentang film yang akan di-launching pada 20 Desember mendatang. Dan bisa disaksikan di bioskop mulai 3 Januari 2019.

”Saya diberi kebebasan untuk memilih cerita. Saya percaya dengan penulisan dan penggarapan film ini. Saya pun tak merasa ada beban sosial jika dibandingkan dengan versi lamanya,” ujar Yandy mengawali obrolan ringan  Jumat (30/11) siang.

Yandy mengungkapkan, pembuatan film tersebut menghabiskan waktu 23 hari untuk reading dan 21 hari syuting. Dia pun banyak terlibat saat proses reading. Meski sekadar menemani pemain membaca naskah. Khususnya para pemain anak-anak.

”Menjadikan lokasi syuting layaknya sebuah keluarga dan teman. Anak-anak pun merasa lokasi syuting sebagai arena mereka untuk bermain,” ungkap sang sutradara yang baru saja meninggalkan masa lajang usai menyelesaikan film Keluarga Cemara ini.

Ringgo dan Nirina bahkan menjadi orang tua di dalam dan di luar set. Keduanya kerap membuat games dan lelucon untuk anak-anak.

Bagi Yandy, spirit yang menyenangkan bersama pemain dan kru menjadi kekuatan film garapannya. ”Kekuatan film ini bukan pada skrip atau pemainnya. Tapi pada kolaborasi pemain, penata musik, hingga krunya,” jelas Yandy.

Keluarga Cemara ditampilkan dalam world preimere di Jogj-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018. Itu membuat Yandy merasa bangga. ”Saya merasa besar di film pendek. Festival menjadi persinggahan terakhir bagi saya. Senang bisa tampil di festival. Ini menjadi satu apresiasi sendiri,” jelasnya.

Nirina Zubir menambahkan, antusiasme warga Jogja sangat besar. ”Mereka juga memberikan apresiasi yang baik,” ungkapnya.

Bagi Nirina, film ini membawa semangat tersendiri. Bahwa semua hal akan kembali pada keluarga. Film ini layak ditonton keluarga, orang tua, dan anak-anaknya. Tanpa harus menggurui, film ini mampu memberikan refleksi terhadap situasi dan persoalan yang dihadapi sebuah keluarga.

”Jadi momen yang menyenangkan bagi keluarga. Bisa melakukan aktivitas bersama dengan menonton film ini,” katanya.

Bahkan, lanjut Nirina, para ayah tak perlu ragu menunjukkan sisi kerapuhannya. Tak usah sungkan untuk menitikkan air mata.

Ada banyak hal yang bisa dia pelajari dari sikap Keluarga Cemara. Misalnya, tokoh Emak yang dia perankan. Nirina berusaha mengaplikasikan sikap-sikap Emak dalam kehidupan sehari-hari. ”Di mana seorang istri dan ibu itu tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara dan menenangkan keluarga,” ungkapnya. (ila/yog/fj)