Film Wage yang mendapat lima nominasi dalam ajang FFI 2018 kembali diputar di salah satu tempat syutingnya, yakni di kompleks eks Gedung Karesidenan Kedu, Kota Magelang. Tetapi pemutaran film yang menceritakan perjalanan pencipta Lagu Indonesia Raya itu, didahului dengan pementasan tari, yang ditutup dengan diskusi kebangsaan

FRIETQI SURYAWAN, Magelang

Setahun lalu, film yang disutradarai John De Rantau sempat diputar di bioskop Magelang dalam peringatan Hari Pahlawan. Tetapi setahun kemudian, film yang berhasil menguak bahwa komponis lagu Indonesia Raya itu lahir di Dusun Trembelang, Somongari, Kaligesing, Purworejo, itu kembali diputar. Ada nuansa yang berbeda, saat film kembali diputar di halaman Museum BPK RI tersebut.

Salah satu faktor pembedanya adalah pagelaran tarian dari Sekar Dahlia. Tampil puluhan anak-anak dalam berbagai tarian tradisional sebelum pemutaran film. Menurut Koordinator Magelang Kota Toea Bagus Priyatna selaku penggagas acara, nasionalisme dan cinta tanah air dapat dibentuk melalui budaya berupa tari dan musik.

“Tarian yang diajarkan sejak dini kepada anak-anak bisa menumbuhkan rasa kebangsaan,” katanya kemarin. Ditambahkan Kepala Museum BPK RI Magelang Dicky Dewarijanto, pihaknya akan selalu mendukung kegiatan bernuansa budaya dan kebangsaan. Harapannya, BPK sebagai lembaga pengawal harta negara bisa terus terlecut semangatnya untuk berjuang demi Indonesia yang lebih baik lagi. Seperti perjuangan sosok Wage Rudolf (WR) Supratman melalui biola yang mampu mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Melalui lagu Indonesia Raya, Wage mampu menyatukan seluruh nusantara dalam menghadapi penjajahan,” tuturnya. Film Wage yang berdurasi sekitar 120 menit ini menceritakan perjalanan hidup sang komponis yang sejak kecil sudah mengalami tindak kekerasan oleh bapaknya yang seorang tentara KNIL, di tangsi Jatinegara pada 1912.

Kemudian ditinggal meninggal oleh ibunya, sebelum harus merantau ke Makassar bersama kakak perempuannya Roekijem yang bersuamikan seorang Belanda. Bakat musiknya membawanya menjadi musisi kafe tempat hiburan orang-orang Belanda. Tapi ia tidak bertahan lama karena dilarang bermain lagi karena pribumi dan ikut dalam pergerakan.

Selain sebagai musisi, WR Supratman juga merupakan wartawan di harian Sin Po. Melalui tulisan-tulisannya dia disebut sebagai propagandis oleh pemerintah Belanda dan salah satu penjahat yang harus ditangkap. Sebanyak 11 lagu diciptakan WR Soepratman untuk menggugah semangat kebangsaan para pemuda pada 1926-1938. Dimulai pada tahun 1926 dengan diciptakannya lagu Dari Barat sampai ke Timur, yang sekarang menjadi Dari Sabang sampai Merauke.

Pada 1928 lagu Indonesia Raya diciptakan dan dinyanyikan pertama kali dalam Kongres Pemuda II. Dilanjutkan Indonesia Ibuku dan Bendera Kita Merah Putih pada tahun yang sama. Pada 1929 menciptakan Bangunlah Hai Kawan dan Raden Adjeng Kartini. WR Supratman menulis lagu Indonesia Raya dalam usia belum genap 30 tahun dan meninggal pada usia 35 tahun.

“Wage benar-benar bisa menjadi teladan bagi kita. Dia bisa menciptakan lagu yang bisa mempersatukan bangsa. Dia tidak perlu senjata. Dia berjuang dengan biola dan pena. Karena Wage selain komponis juga jurnalis,” kata Direktur Opshid Media Ivan Nugroho selaku produser Film Wage.

Ivan menegaskan, Film Wage merupakan pelurus sejarah mengenai kisah hidup WR Supratman. Salah satunya adalah mengenai tempat lahir beliau. “Yang benar adalah di Somongari, Purworejo. Bukan di Jatinegara yang selama ini tercatat,” ujarnya.

Dalam diskusi yang dipandi Freddy Uwek, salah satu seniman Magelang, Mbilung Sarawita mengaku sangat mencermati film yang melibatkan Frans Paat sebagai art director dan Hani Pradigya selaku director of photography. Karena film yang diproduksi tahun 2017 itu secara sinematografi sangat top.

Ukurannya dari tidak adanya menara seluler yang tertangkap kamera, juga pralon produksi tahun 1980-an, termasuk stop kontak tahun 1970-an. Detail gambar sangat diperhatikan, sehingga betul-betul menggambarkan film perjuangan sebelum Indonesia mencapai kemerdekaan pada tahun 1945.

“Saya nunggu ada pralon merk Rucika atau menara seluler saat pengambilan gambar panorama. Tetapi kok gak nemu to,” ungkapnya.

Bagus Priyatna sendiri yang juga sempat bermain dalam film itu saat pengambilan scene Kongres Pemuda, mengaku detail betul-betul diperhatikan. Dia yang sudah bolak-balik ikut pengambilan gambar hingga tiga jam lebih, sempat kehausan dan akhirnya mengambil minuman yang ada di gelas.

Tetapi hal ini diketahui oleh pihak art director, yang merasa jumlah air di gelas yang seharusnya berisi setengah menjadi hampir habis. “Saat itu, saya betul-betul malu. Tetapi saya tidak mau ngaku,” ungkap Bagus sambil tertawa. (laz/er/mg3)