Tumbuh di lingkungan Muhammadiyah sejak kecil. Sunanto melaju pada kontestasi pemilihan ketua umum Pemuda Muhammadiyah. Rabu (28/11) lalu. Di UMY. Berikut perjalanannya menjadi nakhoda baru Pemuda Muhammadiyah.

SUKARNI MEGAWATI, Bantul

Malam kian larut. Jam dinding Soprtorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menunjukkan pukul 23.30. Tampak puluhan jurnalis dari berbagai media massa duduk lesehan di emperan sportorium.

Sidang pemilihan ketua umum Pemuda Muhammadiyah berlangsung tertutup. Beberapa kali Radar Jogja mencoba mengintip suasana perhitungan suara. Dari kaca pintu utama. Tapi hasilnya nihil. Papan perhitungan suara tak tampak jelas. Hanya suara operator perhitungan suara terdengar lamat-lamat.

“Enam, Sunanto. Enam Sunanto,” begitu kira-kira suara yang terdengar lamat-lamat dari dalam.

Pukul 23.45 sebagian jurnalis berdiri. Sebagian lain membangunkan rekan mereka yang tertidur. Saat itu Sunanto baru saja datang. Di sportorium. Kami lantas mendekatinya. Begitu Sunanto turun dari mobilnya. Cak Nanto, sapaannya, memang digadang-gadang sebagai pemenang. Namanya terus dielu-elukan oleh para pendukungnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, para jurnalis langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. “Kemenangan bukan milik saya sendiri. Tapi milik bersama. Semoga semua pihak mendukung dan membantu Pemuda Muhammadiyah menyebarkan nilai-nilai Muhammadiyah ke depan,” ujarnya. Saat itu Sunanto masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya sedari pagi. Khas dengan peci hitamnya.

Sunanto ingin Pemuda Muhammadiyah lebih kuat. Mengakar di masyarakat. Dia sadar, itu bukan pekerjaan mudah. Pemuda Muhammadiyah tak bisa bekerja sendiri. Harus bersinergi. Saling merangkul dan mendukung satu sama lain. Malam itu Sunanto menegaskan. Pemuda Muhammadiyah tak akan berpolitik praktis. Tapi bergerak menggali potensi individu untuk berpolitik.

Di organisasi Muhammadiyah, Sunanto bukanlah orang baru. Dia aktif sejak masih duduk di Pondok Pesantren Sobron, Jawa Tengah. Masa mudanya dihabiskan di organisasi yang didirikan pahlawan nasional KH Ahmad Dahlan itu. Mulai Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IKM), dan Pemuda Muhammadiyah. Sebelum terpilih sebagai ketua umum Pemuda Muhammadiyah, dia tercatat sebagai ketua hikmah dan hubungan antarlembaga di organisasi yang sama.

Pemuda kelahiran 24 September 38 tahun lalu ini juga menjabat koordinator nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR). Periode 2017-2019. “Sebentar lagi akan ada pengganti kornas JPPR. Saya segera adakan munas,” tegasnya.

Sunanto memang ketua terpilih. Namun belum dikukuhkan lewat sidang pleno. Tak pelak Sunanto pun sempat dilarang masuk ruang sportorium. Seperti halnya para jurnalis. Rombongannya dihadang oleh pasukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam). Semacam petugas keamanan. Sunanto baru bisa masuk sportorium sekitar pukul 00.00. Setelah beradu argument dengan petugas Kokam. Saat itulah namanya kembali dielu-elukan. Suasana saat itu bergemuruh. Sunanto ditahbiskan sebagai sebagai ketua umum Pemuda Muhammadiyah terpilih dengan perolehan suara 590. Meraup setengah dari total jumlah suara.

Tak lama kemudian Sunanto didaulat untuk memberikan sambutan. Di podium. Di hadapan ratusan pemuda. Sebagai nakhoda baru Pemuda Muhammadiyah. Untuk periode 2018-2022. Selain ucapan terima kasih kepada para pendukung, Sunanto berjanji membawa Pemuda Muhammadiyah pada porosnya. Dia menegaskan tidak akan menjadi tim sukses siapa pun. Di tahun politik ini. Baik dalam bursa pemilihan legislatif. Maupun pemilihan presiden. “Itu sudah menjadi komitmen saya ketika mencalonkan diri,” tandasnya.

Sunanto memang sempat dikabarkan dekat dengan salah satu pasangan calon presiden. Tapi malam itu dia kembali menegaskan. Tak ada kong-kalikong antara dirinya dengan kandidat presiden mana pun. Sontak pernyataannya kembali mendapat aplaus para pendukung.

Lebih lanjut Sunanto menyatakan, akan terus menjunjung tinggi netralitas Pemuda Muhammadiyah. Sesuai dengan komitmen dan khitah Muhammadiyah. “Tidak usah dihubungkan ke situ (calon presiden tertentu, Red). Jangan ajak-ajak saya juga. Bertemu dengan Jokowi (Presiden Joko Widodo) saja tidak pernah,” katanya sambil tersenyum.

Pencalonannya sebagai ketua umum Pemuda Muhammadiyah juga sempat menuai sorotan. Malam itu pula Sunanto menyampaikan klarifikasi. Soal baliho-baliho yang terpasang di beberapa ruas jalan di DIJ. Menurutnya, para pendukung di DIJ yang membantunya berkampanye. Soal berapa biaya kampanye dia tak tahu. Pun demikian jumlah baliho bergambar dirinya. “Kalau tahu, berarti saya panitia dong,” canda pemuda kelahiran Madura itu.

Ditanya program ke depannya, Sunanto kembali menekankan pentingnya orbitasi kader. Termasuk transformasi kader. Untuk dikembangkan di segala bidang. Sesuai keahlian masing-masing. Dia akan mengemas organisasi Pemuda Muhammadiyah menjadi ruang bagi kader. Untuk pengembangan potensi. (yog/fj)