GUNUNGKIDUL – Jumlah pengidap HIV/AIDS di Gunungkidul mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Bumi Handayani menjadi punyumbang penyakit mematikan terbesar ke empat, setelah Kota Jogja, Sleman, dan Bantul.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka menyebut, tahun ini hingga Juni tercatat ada 36 orang terinfeksi HIV/AIDS. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu, yakni 48 kasus.

”Secara akumulatif, dari tahun 2006 hingga saat ini tercatat ada 337 kasus,” kata Priyanta Madya Satmaka saat dihubungi Jumat (30/11).

Menurutnya, mayoritas pengidap HIV/AIDS tertular ketika di perantauan. Itu akibat kerap berganti pasangan. Namun, ada pula yang tertular di Gunungkidul.

”Rata-rata mereka yang tertular masih usia produktif,” ujarnya.

Yang memprihatinkan lagi, kata Priyanta, pengidap baru menyadari tertular ketika kondisi penyakitnya sudah akut. Akibatnya, penularan HIV/AIDS semakin tinggi.

”Biasanya setelah 5 sampai 10 tahun baru ketahuan,” ucapnya.

Karena itu, Priyanta mengimbau masyarakat melakukan pemeriksaan melalui VCT (Voluntary, Counselling and Testing). Agar dapat segera dilakukan penanganan.

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Gunungkidul Triwahyu Ariningsih mengatakan, pihaknya intens melakukan sosialisasi dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS. Tujuannya untuk memberikan semangat kepada pengidap.

”Dan membantu mengurangi stigma diskriminasi dari lingkungan,” katanya. (gun/zam/by/mg3)