Hajatan atau punya gawe membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Banyak warga harus melakukan berbagai cara agar hajatannya bisa berjalan lancar dan tercukupi semuanya. Namun tidak sedikit yang gamang untuk melangkah, sehingga memilih menjual atau menggadaikan barang berharga miliknya.

BUDI AGUNG, Purworejo

Jauh-jauh hari orang yang akan menggelar hajatan disibukkan dengan berbagai persiapan. Semua hal harus disiapkan dengan matang agar di hari H tidak ada ganjalan yang bisa memancing omongan orang karena berbagai kekurangan yang ada.

Hal ini ternyata tidak berlaku di Kelurahan Kledung Karangdalem, Banyuurip, Kabupaten Purworejo. Sepanjang 25 tahun terakhir mereka saling membantu dan peduli dengan tetangga yang memiliki hajatan.

Berbagai bantuan mengalir dari tetangga satu desa untuk nyengkuyung agar ‘gawe’ itu berjalan dengan baik dan lancar. Tradisi gotong royong yang dilakukan secara bergantian ini mereka gerakkan dalam paguyuban yang dinamakan Kebo Bodo. Ini bentuk pelestarian budaya dan adat istiadat masyarakat, di mana ada misi sosial dan menjaga semangat kebersamaan.

Ditarik ke belakang, tradisi ini mulai berjalan mulai 23 November 1993, yang dilatarbelakangi keinginan warga untuk membantu anggota yang memiliki hajatan. Sistem bantuan yang diterapkan diilhami arisan zaman dulu, yakni berbagai kebutuhan akan dicukupi anggota yang lain.

Bantuan yang biasanya berupa barang itu, semuanya akan tercatat. Saat yang lain baru punya hajatan, si penerima arisan akan memberikan hal senada dari pemberi awal. Misalnya A punya hajat, maka B membantu beras 100 Kg. Nah suatu saat B yang punya hajat, maka gantian A membantu 100 Kg.

Ketua Paguyuban Kebo Bodo Retno Waluyo mengungkapkan, dalam perjalanannya mereka tidak semata fokus terhadap hajatan anggota saja, namun juga warga sekitar. Anggota diajak mengejawantahkan filosofi yang tersirat di balik nama kebo (kerbau) mbodho (membodoh).

Artinya, berupaya untuk menjadi manusia yang rendah hati, berani merasa bodoh, mau belajar, dan tidak merasa paling pintar. Nama Kebo Bodo yang mengangkat kearifan lokal juga mengajarkan sikap kesederhanaan dan kebermaknaan dalam bermasyarakat.

“Kami ingin meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Meski jumlah santunan tidak seberapa, itu hasil iuran anggota yang dikumpulkan dalam pertemuan rutin yang dilakukan malam Selasa Kliwon tiap bulannya,” kata Retno kepada Radar Jogja Senin (26/11).

Secara khusus, memperingati perjalanan paguyuban selama 25 tahun, mereka menggelar tasyakuran bersama yang diwujudkan dalam bentuk 25 tumpeng serta nasi kluban pada Sabtu (24/11) malam. Sedikitnya 100 orang hadir, termasuk dari perwakilan pihak kelurahan.

Tidak jauh dari sisi sosial, dalam kesempatan itu, paguyuban juga memberikan 25 paket santunan bagi warga yang membutuhkan. “Peringatan itu menjadi bentuk rasa syukur kita dan tetap menjaga semangat bagi seluruh warga di Kelurahan Kledung Karangdalem ini,” tambah Retno. (laz/rg/mg3)