KULONPROGO- Proses belajar mengajar ratusan siswa SDN Kemiriombo di Padukuhan Manggis, Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo Kamis (29/11) terganggu. Mereka dihantui bencana tanah longsor Perbukitan Menoreh. Hujan yang mengguyur wilayah itu membuat tebing setinggi 10 meter di atas sekolah longsor. Material longsoran menerjang tembok ruang perpustakaan dan teras sekolah.

Akibatnya proses belajar mengajar dihentikan sementara. Guru dan siswa dikerahkan untuk kerja bakti membersihkan material longsoran. Dengan alat seadanya. Hanya menggunakan ember. Tanah dipindahkan secara estafet. Dari kejadian itu pihak sekolah mengambil kebijakan memulangkan siswa lebih awal ketika hujan lebat dalam jangka waktu lama. Kegiatan ekstrakurikuler pun ditiadakan jika langit mendung. Itu sebagai upaya antisipasi pengurangan risiko bencana.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

“Lokasi sekolah kami memang berada di daerah pegunungan yang rentan longsor,” ucap Kepala Sekolah SDN Kemiriombo Utik Yuni Astuti Kamis (29/11).

Yuni mengimbau para orang tua wali rutin menjemput anak-anak mereka. Sebab, bukan hanya lokasi sekolah yang rawan longsor. Jalan-jalan penghubung permukiman warga dan sekolah juga rawan longsor.

Menurut Yuni, tebing longsor di belakang sekolah merupakan lahan warga setempat. antisipasi menahan longsor susulan telah dilakukan. Dengan membuat aliran air. “Kami juga meminta pohon yang ada di tubir tebing longsor untuk ditebang. Takut jika tumbang bisa menerjang bangunan sekolah,” ungkapnya.

Koordinator Lapangan Kampung Siaga Bencana (KSB) Desa Gerbosari Mulyono, 45, menyatakan, sebagian besar tanah di wilayahnya cukup labil. Sehingga rawan longsor. Keberadaan KSB Gerbosari cukup krusial. Berfungsi juga sebagai lumbung logistik untuk tiga desa lain. Ngargosari, Banjarsari, dan Sidoarjo. Selain makanan, KSB menyimpan alat-alat penaggulangan bencana. Seperti tenda, angkong, cangkul, dan peralatan mitigasi. “Warga telah dilatih teknik mitigasi bencana dan tanggap darurat,” ujarnya.

Ihwal longsor di sekitar SDN Kemiriombo, menurut Mulyono, kawasan tersebut sejalur dengan Padukuhan Jeruk. Yang tahun lalu mengalami longsor saat musim hujan. SDN Kemiriombo berada di bawahnya.

Dikatakan, berdasarkan penelitian geolog UGM rekahan tanah Padukuhan Jeruk berpotensi sliding atau longsor besar. “Makanya area itu dipasangi early warning system (EWS),” katanya.

Di Gerbosari terpasang tiga unit EWS. Selain di Padukuhan Jeruk, dua lainnya dipasang di Keceme dan Kayugede.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mengimbau warga di daerah berpotensi longsor untuk selalu waspada. Tidak tidur nyenyak saat hujan. Potensi longsor tersebar di seluruh wilayah kabupaten di DIJ. Sementara ketersediaan EWS diakuinya belum merata. Jumlah EWS tak cukup untuk dipasang di titik-titik rawan longsor. “Sedikitnya ada 20 titik paling rawan longsor di DIJ,” katanya.

Belum lama ini BPBD DIJ memasang tiga EWS di Bantul. Yakni di wilayah Desa Wonolelo, Pleret; Selopamioro, Imogiri; dan Srimartani, Piyungan. ”Bertahap. Selanjutnya giliran kawasan perbukitan Kulonprogo dan Gunungkidul (dipasang EWS, Red) pada 2020,” ucapnya. (tom/dwi/yog/rg/mg3)