KULONPROGO-Sedimentasi Waduk Sermo di Kecamatan Kokap, Kulonprogo sudah parah. Karena itu kalangan DPRD Kulonprogo mendesak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) dan Pemkab Kulonprogo segera melakukan pengerukan lumpur atau normalisasi.

“Selama 26 tahun Waduk Sermo beroperasi, belum perah sekalipun dilakukan pengerukan lumpur, sekarang terjadi pendangkalan yang cukup parah,” kata Ketua Fraksi Golkar Widiyanto DPRD Kulonprogo disela meninjau Waduk Sermo Selasa (27/11).

Saat dibangun kedalaman Waduk Sermo mencapai 20 meter. Tapi saat ini, kedalamannya hanya tinggal tujuh meter hingga 10 meter saja.

“Pertama kali dibangun, Waduk Sermo dirancang mampu bertahan sekitar 50 tahun, namun melihat kondisi saat ini, dikhawatirkan usianya tidak akan sampai 50 tahun,” ungkapnya.

Menurut dia, luas Waduk Sermo mencapai 157 hektare, 53 persen diantaranya sudah mengalami pendangkalan atau sedimentasi parah. Penyebabnya diantaranya faktor lingkungan waduk dan reboisasi.

“Reboisasi Waduk Sermo tidak tertangani dengan baik. Saat ini, tanaman yang ditanam di sabuk hijau merupakan tanaman produktif dan konsumtif, seperti pohon kelapa dan pohon sengon. Pohon ini akan ditebang kalau sudah besar dan tidak bisa menampung air,” ujarnya.

Sedimentasi yang terjadi bisa mengancam keberlangsungan ketersediaan air baku masyarakat, kebutuhan air irigasi, bahkan bisa memicu banjir di Kecamatan Pengasih, Wates, dan Temon saat musim penghujan.

“Fungsi waduk harus dikembalikan seperti tujuan awal, yakni sebagai tampungan air baku, pengendali banjir, tempat wisata dan penyulai air irigasi, maka normalisasi sudah sangat perlu dilakukan,” jelas politisi senior Partai Golkar itu.

Selain itu, ia berharap kepada Pemkab Kulonprogo, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) lebih jeli dalam menerbitkan izin atau mengeluarkan rekomendasi izin penambangan.

“Selama ini, kegiatan tambang sangat dekat dengan Waduk Sermo. Dari kegiatan penambangan tersebut, tanahnya langsung mengalir ke waduk,” keluhnya.

Pemkab juga didesak untuk membuat perencanaan pembuatan kantung-kantung air bendung dan embung, dan menjaga sumber mata air guna mencukupi kebutuhan air masyarakat. Terlebih, pasokan air bersih New Yogyakarta International Airport (NYIA) juga akan bergantung dengan Waduk Sermo.

Purnomo, 45, warga Kokap mengungkapkan, proses normalisasi Waduk Sermo cukup penting, agar supaya kebutuhan air di kawasan Bukit Monoreh tercukupi. Saat kondisi kemarau panjang pasokan air bersih ke masyarakat kadang tersendat-sendat.

“Salah satu pemicunya ketersediaan air di Waduk Sermo menyusut dan tambah sedikit,” ungkapnya. (*/tom/pra/zl/mg3)