JOGJA – Kuasa hukum panitia Kemah Pemuda Islam Trisno Raharjo mengakui adanya maladministrasi dalam penyusunan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) oleh panitia dari Pemuda Muhammadiyah. “Ini terjadi karena ketidakpahaman panitia,” ujarnya kepada wartawan di Kantor PP Muhammadiyah, Kamis (29/11).

Dikatakan, temuan ini merupakan hasil pengecekan salinan dokumen LPJ. Hal ini terjadi karena panitia tergesa-gesa dalam menyusun LPJ yang waktunya hanya 14 hari. Dia menduga kesalahan administrasi terjadi dalam proses pembayaran.

“Dari item-item (LPJ) yang ada, kami menemukan ada persoalan tentang pembayaran. Inilah yang kemudian kami anggap perlu dilihat secara objektif,” ungkap Trisno. Oleh karena itu, ia memastikan Dahnil Anzar Simanjuntak tidak terlibat dalam kasus yang oleh polisi diduga ada penyelewengan dana ini.

“Setelah melihat perkembangan pemberitaan kasus ini, kami menegaskan tidak ada keterlibatan saudara Dahnil Anzar Simajuntak selaku Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2018 dalam proses pelaporan, dan tidak menahu soal LPJ serta teknis kegiatan Kemah Pemuda Islam tersebut,” tandas Trisno.

Trisno sendiri menyayangkan dokumen LPJ yang dicek bukan dokumen asli, melainkan hanya salinan atau fotokopian. Sehingga kesalahan yang ditemukan tidak bisa diuraikan secara detail. Maka, menurutnya, perlu ada pendalaman lebih lanjut.

“Itu (kesalahannya) pada pembelian, tapi saya juga tidak bisa menjelaskan rinci karena ini fotokopian. Saya tanya ke teman-teman akuntan, mereka juga tidak bisa berpendapat karena bentuknya fotokopian,” lanjut Trisno.

Pihaknya menyatakan dukungan penuh kepada penyidik dari Polda Metro Jaya untuk memeriksa dokumen. Baik yang dikeluarkan Kemenpora maupun LPJ dari ormas kepemudaan lain yang mendapat kucuran dana dari Kemenpora.

Dengan harapan, pemeriksaan dapat transparan dan akuntabel. “Berapa jumlahnya? Apakah ada mark up? Saya ingin katakan biar polisi bekerja untuk menyelesaikan bersama BPK,” kata Trisno.

Selain fokus pada LPJ, dia berharap penyidik dapat mempertimbangkan kesuksesan acara yang bertujuan demi kebersamaan antar-pemuda Islam ini. Pihaknya mengimbau panitia Kemah Kebangsaan dari Pemuda Muhammadiyah untuk pro aktif dalam penyidikan.

Ia mewakili panitia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Dahnil dan keluarga, di mana panitia menggunakan scan tanda tangan Dahnil tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Dalam kesempatan ini, hadir panitia Kemah Pemuda Islam, antara lain, Ahmad Fanani, Virgo Sulianto Gohardi, Abdul Rahman Syahputra Batubara, dan Fuji Abdul Rohman. Namun demikian, dari semua yang hadir itu tak satu pun yang bersedia dimintai komentar soal ini.

Sementara itu, demisioner Sekjen Pemuda Muhammadiyah Ifannusir Rasman enggan berkomentar terkait dana kemah. Dia memilih menyerahkan semua proses hukum kepada penegak hukum.

“Kalau dipanggil, ya datang,” katanya kepada Radar Jogja, usai Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Sportorium UMY dini hari, Kamis (29/11).

Terkait tanda terima penyerahan uang Rp 2 miliar ke pihak Kemenpora, Irfan menegaskan hal itu butuh proses. Dia mengatakan cek pengembalian sudah diberikan ke salah satu staf Kemenpora. Namun Irfan mengaku lupa kapan tepatnya dia menyerahkan cek itu.

Menanggapi masalah ini, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah terpilih Sunanto mengatakan, akan menanyakan hal ini terlebih dahulu kepada demisioner Ketum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar terlebih dulu. “Akan kami dampingi,” jelasnya. (tif/ita/ega/laz/rg/mg3)