GUNUNGKIDUL – Hujan deras mengguyur sebagian wilayah Gunungkidul Rabu (28/11) dini hari. Sekitar pukul 01.00. Hujan hampir semalaman tanpa henti mengakibatkan talud rumah milik Kasto,53, di Dusun Manggung, Tileng, Girisubo longsor. Tak hanya itu, longsoran material talud sepanjang 25 meter itu menerjang bagian samping rumah Susanto,63, yang persis di bawah rumah Kasto. Tak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Hanya, rumah Susanto yang baru selesai dibangun dua bulan lalu urung dijadikan tempat hunian.

“Pemilik (Susanto) selama ini tinggal di rumah istrinya. Nunggu perbaikan dulu lalu pindah ke rumah itu,” ungkap Kasto Rabu (28/11).

Meski rumahnya rusak parah, Kasto merasa beruntung. Karena saat kejadian dia sekeluarga sedang berada di luar kota.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki menyatakan telah menerjunkan kru untuk meninjau lokasi bencana. Sekaligus memberikan bantuan bagi korban. “Intensitas hujan terpantau sedang. Sejak sore hingga dini hari,” katanya.

Edy tak menampik banyaknya lokasi rawan longsor di Gunungkidul. Tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya: Gedangsari, Patuk, Nglipar, Ngawen, dan Ponjong bagian utara. “Warga di wilayah lain juga harus waspada. Kalau hujan berjam-jam, warga di kawasan rawan longsor lebih baik pindah sementara waktu,” imbaunya.

Hujan berintensitas tinggi juga menyebabkan tanah longsor di wilayah Kulonprogo. Tepatnya di Padukuhan Menggermalang, Gerbosari, Samigaluh. Akibatnya, rumah Sudarto di RT 74/RW 36 berpotensi amblas. Karena tebing setinggi 15 meter sepanjang 12 meter di belakang rumah Sudarto ambrol.

Astuti, 45, istri Sudarto, mengatakan, tebing ambrol berawal pada rekahan tanah yang muncul sejak Minggu (11/11) lalu. Sudarto menambal rekahan itu dengan adukan semen dan pasir. Namun upayanya sia-sia. Tambalan itu tak mampu menahan menahan longsoran material tebing akibat hujan deras. “Longsoran menerjang kandang sapi dan instalasi biogas,” jelas Astuti. Kondisi itu menyebabkan pondasi dapur dan tempat ibadah keluarga menggantung.

Astuti mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi itu. “Mau pindah tidak mungkin, karena sudah tidak punya lahan lagi,” katanya. “Dulu kami tinggal di rumah bawah itu, karena takut longsor dan akses jalannya sulit kami pindah kesini, eh malah longsor,” jelasnya sambil menunjuk sebuah rumah di bawah tebing.

Sudarto sekeluarga kini harus mengungsi setiap hujan deras. Dapur dan rumah ibadah sementara tak difungsikan. Sudarto berencana membangun talud untuk senderan penahan longsor susulan. “Nggak tahu kapan, kalau punya uang,” ucapnya.

Kasi Pemerintahan Desa Gerbosari Saronto mengaku telah melakukan penanganan darurat bencana di rumah Suarto. Melibatkan elemen kampung siaga bencana (KSB).

“Begitu kejadian warga dan relawan langsung terjun membantu mengevakuasi material longsor,” ungkapnya.

Melihat kondisi rumah Sudarto, kata Saronto, langkah terbaik adalah relokasi. Namun hal itu tak memungkinkan karena Sudarto memang tak punya lahan lain. “Kami hanya bisa menyarankan agar bangunan yang berada tepat di atas area longsor tak digunakan,” sambungnya.

Dikatakan, wilayah Gerbosari terdiri atas 19 padukuhan. Dihuni sekitar 1.400 kepala keluarga. Atau kurang lebih 4 ribu jiwa. Semua padukuhan masuk peta rawan bencana tanah longsor. Hanya sekitar 20 persen yang aman dari acaman longsor.

“Longsor di Dusun Menggermalang ini bukan kali pertama. Setiap musim penghujan pasti ada yang longsor,” bebernya.

Guna mencegah dampak lebih serius akibat tanah longsor, Saronto mengimbau warganya untuk meningkatkan kewaspadaan. Bermodal keraifan lokal untuk mendeteksi pergerakan alam. (gun/tom/yog/rg/mg3)