Sore menjelang malam pada Jumat pukul 18.06 WITA, kurang lebih 2 bulan yang lalu, tragedi bencana alam 28 September 2018 yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala masih belum bisa terlepas begitu saja dari memori para korban bencana, termasuk pribadi sendiri.

Gempa, tsunami, dan likuifaksi yang seketika berhasil menyapu rata dan meluluhlantakkan Kota Palu dan sekitarnya seperti tak pandang bulu, mulai dari pejabat hingga rakyat biasa semua terkena dampaknya. Tepat saat kejadian semua orang berporak-poranda untuk menyelamatkan diri masing-masing, berbagai carapun dilakukan agar dapat selamat, malam itu menjadikan semua orang serentak mengingat kebesaran dan keagungan Allah SWT.

Memang benar bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Manusia dapat membangun peradaban yang hebat dan megah sekaligus membuat manusia lupa akan jati dirinya sendiri. Hari itu beragam acara dan kegiatan mewah yang sudah direncanakan dari jauh hari dengan matang, seketika musnah semua.

Pada saat malam hari, terlihat dari kejauhan api yang sangat besar membakar sebuah rumah di sisi Jl. Pue Bongo, namun tak ada satupun pemadam kebakaran yang datang dan semua warga hanya fokus menyelamatkan diri sendiri, sehingga api semakin membesar sehingga merembet ke bangunan lain dan dibiarkan begitu saja.

Satu hari setelah gempa masih ditemukan beberapa orang yang bertahan hidup di bawah reruntuhan bangunan di Balaroa, namun karena keterbatasan kemampuan dan belum adanya bantuan maka nyawa harus melayang dengan sia-sia. Memang pada saat itu sangat dirasakan bahwa penanganan terhadap bencana sangat lambat, pemerintah belum sigap dan siap ketika terjadi bencana. Minimal hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah berkeliling Kota Palu untuk menghimbau agar masyarakat tetap tenang, namun nyatanya tidak ada, sehingga masyarakat merasa seperti ‘kehilangan induknya.’ Tidak tahu harus kemana untuk meminta bantuan dan pertolongan.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) total korban yang tercatat meninggal sebanyak 2.113 orang, tetapi saya yakin bahwa total keseluruhan korban yang meninggal jauh lebih banyak dari data yang telah tercatat.

Akibat bantuan yang masih minim dan lambat datang, beberapa hari pasca gempa saat itulah ujian kemanusiaan dimulai, masyarakat dilanda kelaparan, kebutuhan sandang, pangan, papan yang sangat terbatas, sumber daya seperti listrik tidak ada, ketersediaan bensin dan air bersih yang menipis, dan berbagai keterbatasan lainnya. Sehingga membuat sebagian besar masyarakat secara terpaksa harus melakukan penjarahan ke berbagai toko dan pusat perbelanjaan, ada juga yang meminta sedikit makanan atau selembar pakaian kepada orang yang memiliki ketersediaan yang lebih. Sangat sedih rasanya ketika mengingat semua kejadian itu.

Momen seperti inilah yang kadang membuat kita menjadi dilema, disisi lain banyak masyarakat membutuhkan kebutuhan pokok, namun ada juga oknum-oknum yang ‘mengambil kesempatan dalam kesempitan’ memanfaatkan situasi untuk mengambil barang yang tidak begitu dibutuhkan dalam keadaan darurat seperti itu.

Bagi pemiliki usaha dalam keadaan seperti itu tentunya bukan lagi berbicara mengenai untung rugi, tetapi rasa kemanusiaan untuk membantu sesama, namun hingga saat ini, saya masih mempertanyakan dimana sebenarnya rasa kemanusiaan kepada mereka oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sejak kejadian, langsung banyak masyarakat yang berpendapat bahwa bencana ini merupakan hukuman dari Allah SWT akibat dilaksanakannya berbagai ritual adat yang dianggap ‘syirik’ untuk memperingati HUT Kota Palu. Hal itu memang diluar nalar manusia, yang pasti kita sebagai manusia apalagi di zaman modern saat ini, sudah tidak seharusnya menghidupkan kembali ritual-ritual adat seperti zaman yang belum mengenal eksistensi dari agama.

Walaupun ritual-ritual adat tersebut merupakan kebudayaan daerah, cukuplah hal itu hanya menjadi sejarah bahwa Kota Palu memiliki kekayaan budayanya. Budayalah yang harus menyesuaikan dengan ajaran agama, bukan budaya yang dijadikan agama. Semua kejadian itu memberikan gambaran kepada saya tentang hari kiamat.

Akhir dari tulisan ini, bencana bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, manusia hanyalah makhluk yang lemah yang tidak dapat memprediksi kapan bencana itu akan datang. Kita harus selalu tetap siap dan siaga, sebab bencana tidak memandang gelar, tahta, dan harta sehingga tidak ada gunanya bagi manusia untuk menyombongkan diri, karena setiap manusia akan bertemu dengan kematian maka buatlah hubungan kita dengan Allah SWT baik (hablum minallah) dan hubungan sesama manusia juga baik (hablum minannas). Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin. (ila)

*Penulis  saat ini menjadi Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako, sekaligus sebagai mantan Wakil Ketua Umum Forum Anak Daerah Sulawesi Tengah periode 2016-2018. Prestasi Juara 3 Lomba Esai Simposium Gizi Nasional dan Juara 2 Lomba Penulisan Kebangsaan tingkat Nasional.