Campursari bisa dibilang telah menjadi lagu “kebangsaan” warga Gunungkidul. Pertama kali dipopulerkan oleh Manthous (alm), yang terkenal itu. Yono Torong adalah salah seorang di balik karya campursari yang masih nge-hits di kalangan tertentu itu.

GUNAWAN, Gunungkidul

RUMAH bercat tembok hijau daun itu tampak asri. Atapnya berbentuk limasan. Berdiri di pinggir Jalan Trowono, Paliyan, Gunungkidul. Di halaman depan terdapat aneka buah-buahan. Itulah rumah pencipta lagu campursari Yono Torong.

Sehari-hari Yono tinggal bersama istrinya, Retno Winarni, dan seorang anaknya, Shafa Satyarani, kelas IV SD. Belum lama ini Radar Jogja berkunjung di rumah Yono. “Mari silakan masuk,” kata Yono menyambut ramah.

Alumnus SMAN 2 Wonosari angkatan 1988 itu mempersilakan Radar Jogja duduk di kursi tamu. Sejurus kemudian dia pamit sebentar untuk meyeduh teh panas manis. Tidak lama kemudian teh manis tersaji lengkap dengan camilan. “Mangga dirahapi (silakan dinikmati hidangannya),” pintanya.

Yono sudah tahu maksud kedatangan Radar Jogja di rumahnya. Basa-basi sebentar, pemilik nama asli Istriyono itu langsung memulai kisah perjalanannya. Sebagai pencipta lagu campursari. “Dulu saya memang suka main musik saat masih sekolah. Dangdut dan keroncong. Singkat cerita, Pak Manthous (alm) pulang membawa musik campursari,” kenangnya.

Kala itu Manthous mengukuhkan grup campursarinya di Trowono, kampung halaman Yono Torong. Pemilik studio musik CSGK (Campursari Gunungkidul) di Playen itu merekrut seniman-seniman muda yang sejalan pemikirannya.

Ketika itu lagu campursari sempat booming. Namun tak lama. Pada 2006 lagu campursari mulai ditinggalkan penggemarnya. Satu per satu grup campursari bubar. Yono Torong berusaha menerangkan kembali pamor campursari yang mulai meredup. Dibantu kerabatnya, Aris Torong. Mulailah mereka mencoba mencipta lagu. Direkam di kaset. Lalu ditawarkan ke perusahaan label di Jakarta.

Ada empat lagu andalan. Dua di antaranya diterima label ternama. Berjudul Kecantol Tresno dan Aku Cinta Kamu (Kanggo Sliramu, versi orisinilnya, Red). Berangkat dari situ, pada 2010 Yono Torong membuat album berlabel New CSGK. “Itu pun karya kami belum bisa menghasilkan uang. Hanya ditukar dengan kepingan VCD,” ungkapnya.

Yono tak patah arang. Hingga dia dipertemukan dengan komedian Kelik Pelipur Lara. Dia lantas diminta membuatkan album BBM 1 untuk suvenir pernikahan Kelik Pelipur Lara. Pada 2011 Yono merilis album Campur-Campur 1 bersama Dimas Tedjo, yang juga seniman campursari. Salah satu lagunya, Pengen Nyanding, juga sempat booming.

Yono lantas menjajaki label di Jawa Timur. Lagu Pengen Nyanding, Pucuk Dicinta, dan Sumpah Selikur laris manis dinyanyikan grup dangdut Monata dan New Palapa.

Namun Yono Torong justru bersedih. Karena lagu-lagu karyanya ngetop di luar daerah. Tapi tidak di kampung halamannya sendiri. Di Gunungkidul, sekalipun. Total ada 30 lagu dia ciptakan.

Lantas berapa royalty yang dia terima sebagai pencipta lagu? Yono Torong hanya menjawab dengan senyuman “Apreasiasi terhadap kami sangat kurang. Dari manapun. Termasuk dari pelaku yang terlibat rekaman itu sendiri,” sesalnya.

Kondisi itu membuatnya sempat down. Terlebih sejak Yono punya kesibukan lain. Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Wonosari. Dia melatih olah vokal penyanyi lokal anak-anak. Sementara lagu-lagu karyanya masih sering dinyanyikan para biduan di acara hajatan pengantin. (yog/rg/mg3)