SLEMAN – Gejolak Gunung Merapi ternyata tak berpengaruhi bagi warga setempat. Adanya guguran lava yang terlontar sejauh 300 meter dari bibir kubah lava ke hulu Sungai Gendol seolah tak jadi persoalan besar. Aktivitas warga tetap normal. Pun demikian aktivitas penambangan pasir, yang sebenarnya merupakan larangan.

Dari pantauan Radar Jogja kegiatan ekonomi di Pasar Butuh, Glagaharjo, Cangkringan berlangsung seperti hari-hari biasa. Sejauh ini pasar yang berada di perbatasan wilayah Sleman dan Klaten itu menjadi salah satu indikator gejolak Merapi. Itu karena letaknya hanya berjarak tak lebih 10 kilometer dari puncak Merapi.

Jika pasar itu sepi kegiatan transaksi sejak pagi, bisa dipastikan kondisi Merapi sudah pada level yang mengkhawatirkan. “Semua berjalan seperti biasa,” ungkap Kades Glagaharjo Suroto Selasa (27/11).

Itu bukan berarti warga Glagaharjo tidak bersiap diri. Menurut Suroto, delapan titik kumpul telah disiapkan. Sebagai lokasi evakuasi saat Merapi erupsi. Titik kumpul tersebar di tiap dusun. Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Srunen, dan Singlar. Ronda Merapi juga rutin. Sebagai langkah antisipasi dini warga juga telah mengemasi barang-barang berharga. Disimpan di satu tempat.

Situasi senada terpantau di Desa Kepuharjo. Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto bahkan menyebut warganya tenang-tenang saja. “Tidak ada yang berubah aktivitasnya kendati sudah ada titik api diam,” ujarnya.

Heri menegaskan, warga patuh anjuran pemerintah. Untuk menghindari kawasan radius 3 kilometer dari puncak.

Menurutnya, warga Kepuharjo hanya beraktivitas di sekitar Bunker Kaliadem. Jaraknya 4,5-5 kilometer dari puncak Merapi.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Aktivitas penambangan terpantau di Dusun Kopeng. Puluhan truk pengangkut pasir dan batu hilir mudik setiap hari. Bahkan sampai mengantre. Back hoe pun beroperasi di Sungai Gendol. “Kalau sudah pada level 3 atau status siaga, baru lokasi di atas saya sterilkan,” ujarnya.

Heri tak menampik adanya larangan aktivitas penambangan pasir di wilayah Merapi. Seiring adanya surat edaran dari Dinas Pekerjaan Umum Energi dan Sumber Daya Mineral (DPU-ESDM) DIJ. Surat tersebut menyebutkan, penambangan pasir dihentikan sampai status Merapi kembali pada level aktif normal. “Ya kalau tentang izin tambang tanyakan ke pemerintah di atas. Saya hanya mengimbau penambang untuk hati-hati,” ucapnya.

Selain itu, aktivitas wisata lereng Merapi juga terbilang normal. Bahkan, Heri mengklaim adanya lava pijar justru menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) sisi timur Bambang Sugeng mengamini pernyataan Heri. Sejauh ini guguran material dari puncak Merapi tak berpengaruh pada aktivitas wisata lava tour. “Tidak ada penurunan jumlah wisatawan,” katanya.

Mitigasi Bencana

Heri mengaku telah menyiapkan beberapa skenario mitigasi bencana jika sewaktu-waktu status Merapi ditingkatkan ke level siaga. Adapun jalur evakuasi telah diperbaiki secara swadaya. Demikian pula barak-barak pengungsian. Salah satunya di Dusun Kepuh yang berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak Merapi. Lalu di Wukirsari, Kiyaran, Bimomartani dan Umbulmartani di Kecamatan Ngemplak. Desa Glagaharjo juga telah menyiapkan beberapa barak pengungsian. Salah satunya di balai desa setempat. Jika jarak radius aman diperluas, barak alternatif disiapkan di Argomulyo, Cangkringan dan Sindumartani, Ngemplak.

“Semua sudah kami persiapkan. Selanjutnya tinggal menunggu instruksi pemerintah,” kata Heri.

Heri menyadari, erupsi Merapi 2010 bersampak sangat besar bagi masyarakat. Dam penahan lahar jebol. Terutama di aliran Sungai Gendol. Terlebih situasi saat ini. Dinding kawah Merapi bagian selatan jebol, sehingga luncuran material vulkanik mengarah ke Gendol.

“Dam yang sejatinya digunakan sebagai pengendali material vulkanik tidak mampu menahan jumlah material yang sampai jutaan kubik. Akibatnya banyak dam jebol,” katanya.

Di aliran Sungai Gendol wilayah Cangkringan terdapat 14 dam. Tersebar di kawasan Kaliadem, Kopeng, Batur, Manggong, Ngancar, Banjarsari, Bakalan, Bronggang Suruh, Jetis, dan Brongkol. Dari 14 dam tersebut hanya 10 di antaranya yang sudah tampak. Sisanya masih terkubur material vulkanik sisa erupsi 2010.

Sementara itu, seiring peningkatan aktivitas Merapi, petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta kembali menggelar sosialisasi di kawasan rawan bencana (KRB) 3 Merapi Selasa (27/11). Sosialisasi difokuskan di Desa Glagaharjo. Sebab, desa ini merupakan yang terdekat dari puncak Merapi. Materi sosialisasi meliputi fase-fase aktivitas Merapi. Mulai letusan freatik, lava pijar, hingga tindakan yang perlu dilakukan warga saat erupsi. “Ini kami lakukan supaya warga tidak menerima informasi simpang siur yang bisa menimbulkan keresahan,” ujar Staf Ahli Geologi BPPTKG Jogjakarta Dewi Sri. (har/sky/yog/rg/mg3)