BANTUL – Menghadapi tantangan dalam tahun politik, sebagai organisasi kepemudaan, Pemuda Muhammadiyah (PM) mengaku punya siasat tersendiri yang sudah lama dilakukan dalam muktamar. Misalnya menyangkut money politics yang dinilai tidak pantas

“Meski potensi masalah itu sangat rawan mewarnai dinamika mukmatar, kami optimistis para kader organisasi tidak akan terpengaruh karena kami memiliki siasat khusus,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dalam pembukaan Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (26/11)

Dahnil menegaskan, para kader Pemuda Muhammadiyah dinilai sudah punya bekal etika yang menjadi ciri khas Muhammadiyah ketika menghadapi situasi tersebut. Misalnya ada salah satu calon kandidat ketua umum yang membagikan uang kepada peserta muktamar dengan dalih untuk ongkos atau jajan.

Disebutkan Dahnil, ada dua tipe etika yang dilakukan peserta muktamar. “Uang diterima, tapi saat di bilik suara kader itu tidak akan pernah memilih calon yang memberikan uang tersebut. Karena mereka menilai para calon yang memberikan uang ini sudah menunjukkan watak buruk untuk organisasi. Orang yang membagi uang itu akan berani menjual apa pun dari Pemuda Muhammadiyah,” paparnya.

Sedangkan tipe kedua, kader tidak akan menerima uang namun juga tidak memilih calon itu. Hal ini dinilai sebagai hukuman untuk para calon atau kandidat yang memberikan uang.

Dalam muktamar yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla ini, Dahnil menyampaikan dua tipe itu sudah jadi etika, fatsun, dan siasat yang selalu ditunjukkan kader Pemuda Muhammadiyah dalam berbagai arena muktamar selama ini. Pihaknya juga memiliki tiga senjata utama untuk menebarkan kegembiraan dan kemajuan dalam dakwah Islam yaitu tauhid murni, ilmu yang tinggi, dan amal yang banyak.

Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla (JK) menanggapi statemen Dahnil dengan bijak. JK meminta agar Pemuda Muhammadiyah tetap menjaga kerukunan di tahun politik, baik pemilihan presiden maupun legislatif, meski berbeda suara di bilik suara.

“Demokrasi ialah cara masyarakat memilih pemimpin yang baik. Saya pun menghargai pandangan Muhammadiyah untuk memilih yang terbaik, bukan memilih siapa paling keras atau hebat kampanyenya,” tuturnya di hadapan ribuan peserta muktamar siang itu.

JK juga mencontohkan, meski saat ini Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar mendukung Prabowo sebagai capres pemilu 2019, ia yakin sikap Dahnil tidak serta merta menjadi sikap organisasi. Yang kemudian bersifat wajib untuk diikuti para kader PP Pemuda Muhammadiyah.

“Walaupun Saudara Dahnil ini di pihak (capres-cawapres) nomor 2, tapi tidak berarti Pemuda Muhammadiyah harus ikut kebijakan politik Dahnil tersebut,” kata JK.

JK mengungkapkan, meskipun seringkali baik ketua umum Muhammadiyah maupun Pemuda Muhammadiyah duduk bersama dalam berbagai kesempatan, dalam politik seringkali bisa berbeda pandangan dan sikap. Demokrasi, menurutnya, bukan sekadar angka-angka atau hitungan, tapi langkah untuk memajukan bangsa. “Siapa yang bisa memajukan bangsa itulah yang diserahkan pilihannya pada masyarakat,” katanya. (ita/laz/by/mg3)