JOGJA – Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Transportasi Lokal (Translok) DPRD Kota Jogja Bambang Seno Baskoro berjanji memfasilitasi tuntutan pengemudi becak motor (betor). Terkait larangan operasional betor.

Kendati demikian, saat menemui ratusan pengemudi betor Senin (26/11) Bambang kembali mengulas latar belakang pembentukan Raperda Translok. Yakni sebagai tindak lanjut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Regulasi tersebut mengatur tentang kendaraan bermotor dan tidak bermotor. “Raperda Translok bertujuan melindungi becak kayuh dan andong sebagai angkutan tradisional,” katanya.

Bambang menegaskan, andong dan becak merupakan moda transportasi berdaya tarik wisata di Kota Jogja. Sementara betor dikhawatirkan mengurangi estetika becak. Jumlah becak bukan tidak mungkin akan berkurang karena kalah bersaing dengan betor. Selain itu betor belum memiliki dasar hukum tentang uji kelayakan. Terkait prioritas keamanan bagi penumpang dan pengemudinya. Makanya, pemerintah mengusulkan moda alternatif pengganti betor. Berupa becak listrik (belis).

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Meski demikian Bambang tak menutup mata dengan awak betor. Protes pengemudi betor menjadi bahan evaluasi pansus. Bambang berniat melibatkan perwakilan awak betor dalam pembahasan dan pengujian prototipe becak listrik. “Kami akan bicarakan solusinya dengan dinas terkait,” janjinya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Wirawan Haryo Yudho menambahkan, uji teknis prototipe pengganti betor sedang digalakkan. Becak listrik tetap harus diuji kelayakannya. Sebelum diaplikasikan sebagai angkutan umum. Terutama terkait standar keamanannya, bagi penumpang dan pengemudi. Sementara kewenangan memutuskan layak tidaknya prototipe yang diajukan pemkot ada di kementerian perhubungan. “Pengujian mesin juga. Sudah memenuhi kebutuhan pengemudi atau perlu peningkatan lagi,” ujarnya.

Wirawan mencontohkan becak listrik berdaya 350 Watt. Untuk mengangkut dua penumpang. Jika tak kuat, berarti dayanya harus ditingkatkan. Menjadi 800 Watt atau lebih besar lagi. Agar ke depannya tak memberatkan bagi pengemudi yang berusia lanjut.

Para awak betor yang tergabung dalam Paguyuban Becak Motor Yogkarta (PBMY) seolah tak ada capeknya menentang Raperda Translok. Mereka terus menolak raperda tersebut untuk disahkan menjadi perda. Mereka menganggap keberadaan regulasi translok merugikan. Terlebih adanya klausul sanksi kurungan selama tiga bulan atau denda Rp 10 juta bagi awak betor yang nekat beroperasi.

“Raperda harus dikaji ulang. Kami butuh dilibatkan,” ujar Ketua PBMY Parmin.
Bertolak belakang dengan usulan pemkot, Parmin menilai langkah pemerintah bukanlah solusi bagi awak betor. Soal regulasi, menurut Parmin, belum ada dasar hukum yang jelas untuk penindakan awak betor. Terlebih soal larangan operasional betor dan sanksi tersebut. Terlalu memberatkan.

“Sanksi itu tidak manusiawi,” ketusnya. Menurut Parmin, awak betor tak pernah pegang uang banyak. Bahkan Rp 1 juta pun belum pernah. “Lha ini kok Rp 10 juta (sanksinya, Red). Duit segitu mending buat keluarga,” lanjut Parmin seraya mendesak pemkot segera memutuskan moda pengganti betor.

Awak betor berusia sepuh lagi-lagi menjadi alasan Parmin menolak Raperda Translok. Dia mengklaim, betor sebagai satu-satunya moda alternatif bagi awak betor berusia lanjut. Agar mereka tetap bisa mencari nafkah untuk keluarga. Tapi tetap menghemat tenaga. “Kalau suruh ngonthel becak kayuh ya kasihan yang sepuh,” tuturnya.

Parmin mendesak pemkot menunda pengesahan Raperda Translok. Agar awak betor tak kehilangan mata pencaharian. “Kalau raperda diketok, tapi belum ada prototipe pengganti betor, lantas kami mau cari makan bagaimana,” katanya setengah bertanya.

Atas dasar persoalan itulah Parmin berharap, Pemkot Jogja mengizinkan awak betor mengais rezeki di kawasan Malioboro. Dan pusat-pusat pariwisata lainnya. Sambil menunggu keputusan prototipe pengganti betor oleh kementerian perhubungan.

Parmin justru mengklaim bahwa betor merupakan alternatif pengganti becak kayuh. Karena modelnya tetap seperti becak tradisional. Hanya sumber tenaganya menggunakan mesin motor. (cr5/yog/rg/mg3)