Limbah plastik menjadi musuh utama lingkungan. Itu jika dibuang secara sembarangan. Bagi Koling Lima Berlian Plus, limbah plastik tetap bernilai ekonomi. Bagaimana bisa? Berikut kiprah mereka.

FAIRIZA INSANI, Jogja

SAMPAH menjadi masalah setiap daerah. Terlebih sampah plastik. Karena tak bisa terurai. Selain merugikan masyarakat, limbah plastik berpotensi merusak ekosistem lingkungan. Kondisi itulah yang membuat sekelompok perempuan ini prihatin. Mereka lantas membentuk komunitas lingkungan (koling) pada Januari 2017. Labelnya Lima Berlian Plus. Gerakan utamanya memerangi sampah plastik.

Dinamakan Lima Berlian Plus karena awalnya hanya beranggotakan lima sukarelawan. Mereka adalah fasilitator kelurahan pengelola sampah mandiri di wilayah Kota Jogja. Masing-masing asal Kelurahan Suryatmajan, Tegalrejo, Klitren, Notoprajan, dan Pakuncen.

Di kalangan pelestari lingkungan, mereka bukanlah orang baru. Kelimanya telah aktif sebagai penyuluh masyarakat bidang lingkugnan sejak 2009.

Sri Martini, 44, salah seorang di antaranya. “Kami satu visi. Satu pemikiran. Menjaga lingkungan dengan baik,” ujarnya akhir pekan lalu.

Maka dimulailah aksi mereka. Anggota Lima Berlian Plus mengajak masyarakat berkreasi. Menggunakan bahan limbah plastik dan sampah lain yang sulit terurai. “Supaya limbah itu bisa punya nilai tambah,” ungkap Sri.

Ada beberapa jenis limbah yang didaur ulang. Mulai kantong plastik, sedotan, tutup botol, hingga bekas bungkus makanan. Aneka sampah plastik disulap menjadi benda hasta karya. Misalnya, mainan anak dari tutup botol, bros berbahan sedotan bekas, hingga wadah tisu dari koran bekas. Dompet dari botol plastik pun bisa mereka buat. Juga gantungan kunci.

Soal bahan baku, mereka tak kesulitan. Memanfaatkan bank sampah di masing-masing wilayah. Pun demikian proses daur ulangnya. “Tidak ada yang sulit,” ujar Sri. Semua limbah wajib dicuci bersih. Sebelum dikreasikan menjadi bentuk lain. Mencucinya cukup dengan air dan sabun pencuci piring.

Setelah bersih ada yang bisa langsung dikreasikan. Tutup botol bekas, misalnya. Dengan lem bisa dibentuk mainan atau gantungan kunci. Sedangkan tempat tisu dari bungkus makanan perlu waktu menjahit. “Kalau bahan-bahannya siap, sepuluh menit jadi,” ungkap Sri.

Perubahan bentuk sampah tersebut otomatis berpengaruh dengan nilainya. Di bank sampah, sekilo plastik dihargai Rp 250-Rp 350. Setelah dibentuk barang kreasi harganya bisa mencapai Rp 10 ribu. Tas dari bahan sachet bekas bahkan bisa tembus ratusan ribu. “Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari jualan sampah plastik daur ulang,” ucapnya.

Bagi Sri, aktivitasnya bersama Koling Lima Berlian Plus diharapkan bisa menjadi sebuah unit usaha mikro. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) itulah yang nantinya menjadi wadah pemberdayaan masyarakat.

Koling Lima Berlian Plus juga kerap mengedukasi anak-anak. Bukan sebatas mengajari anak-anak membuat kreasi berbahan sampah plastik. Lebih dari itu, tujuan utamanya meningkatkan kesadaran dan kepedulian anak-anak terhadap lingkungan. Kuncinya tetap dengan jurus 3R: reduce, reuse, dan recycle.

Kebersihan lingkungan diawali diri sendiri dan keluarga. Dengan membiasakan memilah sampah sesuai jenisnya. Dengan begitu masyarakat telah turut serta menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan. “Semoga Joga bisa bebas sampah 2020,” harapnya. (yog/rg/mg3)