KULONPROGO – Produksi minyak atsiri terhenti seiring datangnya musim penghujan. Bahan baku minyak atsiri, daun cengkih (syzygium aromaticum) kering sulit didapatkan.

Salah satu sentra pembuatan minyak atsiri di Kecamatan Samigaluh. Minyak atsiri lebih dikenal dengan sebutan minyak kleyang oleh warga setempat. Dibuat setiap hari selama kemarau.

Minyak atsiri merupakan penghasilan tambahan selain bunga cengkih yang lebih laku untuk campuran rokok. Nilai jual minyak atsiri termasuk tinggi namun pembuatannya tergantung cuaca.

Salah seorang pembuat minyak atsiri, Suminto, 57, warga Pedukuhan Turus, Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh, mengatakan, sekali memproduksi dia membutuhkan waktu delapan jam.

Prosesnya dimulai dari memasukkan daun cengkih kering ke dandang berukuran 2,5 meter kali 1 meter dengan daya tampung 8 kuintal daun cengkih. Kemudian dimasak menggunakan tungku pembakaran berbahan bakar kayu.

Uapnya disuling dan dialirkan ke bak penampungan. Minyak dipisahkan dari air. “Saya mulai pekerjaan pukul 05.00. Sekali masak delapan kuintal daun cengkih kering, menghasilkan dua kilogram minyak atsiri,” ungkapnya, Senin (26/11).

Dijelaskan, minyak atsiri biasanya dijual ke pengepul langganan yang datang setiap tiga hari sekali. Minyak beraroma segar tersebut diekspor ke sejumlah negara Asia, Eropa bahkan Amerika untuk bahan baku kosmetik.

Minyak atsiri lebih bagus menggunakan bahan baku daun cengkih kering yang jatuh sendiri dari pohon. Bukan dipetik atau dikeringkan.

“Saya sudah 15 tahun membuat minyak atsiri, saat ini harganya Rp 140 ribu per kilogram, dulu pernah Rp 500 ribu per kilogram, tidak tahu kenapa semakin turun harganya,” ujarnya.

Selain Suminto, ada puluhan perajin minyak atsiri di Samigaluh. Sama seperti Suminto, para perajin maksimal memproduksi minyak atsiri saat musim kemarau.

“Tahun ini sekitar lima bulan kami produksi maksimal, saat hujan sudah turun kami akan beralih menjadi petani dan mengurus kebun,” ucap Suti, istri Suminto. (tom/iwa/by/mg3)