GUNUNGKIDUL – Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di DIJ perlu mendapatkan penanganan serius. Keberanian melapor dari korban diperlukan untuk memutus mata rantai kejahatan seksual.

”Kasus pelecehan seksual ibarat gunung es,” jelas Program Development Officer Rifka Annisa Defirentia One saat dihubungi Senin (26/11).

Dari itu, dia mengapresiasi langkah kepolisian yang cekatan menangani kasus pencabulan ayah tiri terhadap anak di Kecamatan Purwosari.

Sebagaimana diberitakan, remaja 22 tahun asal Kecamatan Purwosari mengalami trauma berat. Itu lantaran ulah Supriyanto, 44, yang tak lain ayah tiri korban. Selama delapan tahun terakhir, Melati (bukan nama sebenarnya), menjadi budak seks Supriyanto. Sejak Melati duduk di bangku SMP. Perbuatan bejat Supriyanto terbongkar Jumat (23/11). Ketika Melati menginap di rumah Budenya. Sehari kemudian Melati bersama Budenya dan kerabat lain melaporkan perbuatan Supriyanto di Polsek Purwosari.

Dalam kasus ini, dia mewanti-wanti keluarga besar korban harus memberikan dukungan moral. Sebab, korban perlu mendapatkan pemulihan psikologis dan sosial. Namun, Rifka Annisa juga siap untuk memberikan pendampingan.

”Setelah ada assesment kebutuhan bahwa korban membutuhkan pendampingan, maka polisi bisa merujuk ke Rifka Annisa,” ucapnya.

Dia menyebut Rifka Annisa mendampingi 29 kasus kekerasan seksual terhadap anak pada 2017. Mayoritas perempuan.

Kapolsek Purwosari AKP Budi Kustanto mengatakan, penanganan kasus dugaan pencabulan ayah tiri terhadap anak jalan terus. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 81 Ayat 1 atau Pasal 82 Undang-undang No. 17/2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Sub Pasal 285 KUHP atau pasal 289 KUHP atau pasal 294 Ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (gun/zam/ fj/mg3)