BANTUL – Angka kemiskinan mengalami penurunan. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) Eddy Susanto mengklaim, angka kemiskinan pada 2018 turun menjadi 12,91 persen. Dari angka 14.07 persen. Dengan begitu, jumlah penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan saat ini tinggal 130.566 jiwa.

”Sebelumnya 139.670 jiwa,” sebut Eddy di kantornya Senin (26/11).
Turunnya angka ini, Eddy mengungkapkan, karena banyaknya program pengentasan kemiskinan. Mulai program yang digagas pemerintah pusat hingga pemkab. Di tingkat pemerintah pusat, misalnya, ada bantuan pangan non-tunai (BPNT) dan program keluarga harapan (PKH). Sedangkan di tingkat kabupaten ada program pemberian bantuan untuk wanita rawan sosial ekonomi dan bedah rumah tidak layak huni.

”Warga kurang mampu juga diberi Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar,” ucapnya.

Menurutnya, pemkab tidak hanya fokus mengurangi angka kemiskinan. Pemkab juga berupaya meningkatkan perekonomian warga. Caranya dengan memberikan berbagai program pemberdayaan.

”Harapannya pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun mencapai 5,4 persen,” katanya.

Kepala Seksi Perlindungan dan Jaminan Sosial Lestari Hardyaningsih menambahkan, ada program lain yang diberikan kepada kepala keluarga kurang mampu. Di antaranya Jaminan Kesehatan Daerah (jamkesda). Tujuannya agar mereka tidak terbebani ketika berobat di rumah sakit.

”Anggarannya dari APBD,” jelasnya.

Pada 2016, Lestari menyebut jumlah warga yang dikaver dengan Jamkesda 123.766 jiwa. Anggaran yang dialokasikan Rp 13,6 miliar. Kemudian, pada 2017 Rp 15,4 miliar. Itu mengkaver 107.203 jiwa. (ega/zam/fj/mg3)