Tak punya latar belakang musik, tak menyurutkan semangat Tatiana Esti Astuti, Primanita Setyono, dan Ani Faiqoh untuk menyukseskan konser mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta bertajuk Puisi Simfonik, 3 Kisah Cinta Terlarang di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) malam ini. Apa motivasi mereka?

SEVTIA EKA N, Jogja

Berawal dari permintaan sahabatnya, Tatiana Esti Astuti (48) mulai tergerak untuk ikut membantu acara gala concert ini. Ana adalah seorang pendidik nonformal dan juga pemimpin Group Neutron Jogjakarta. Ia sempat berfikir untuk tidak mampu memberikan pelajaran kepada Mahasiswa ISI.

Hanya saja, Primanita Setyono (50) yakni dosen Akuntansi di Universitas Islam Indonesia (UII) terus mendesak Ana untuk mau menjadi pembimbing gala concert dari segi manajerial. Anak Prima yang saat ini mengenyam pendidikan di ISI adalah dasar utama dia ingin membantu sang anak dan teman-temannya mengadakan konser tersebut.

Terbiasa dengan pekerjaan yang selalu terarah dan rapi, membuat Ana dan Prima tertantang untuk memberikan pengarahan tentang manajerial yang baik kepada 100 Mahasiswa. “Mahasiswa 100 ini kami tidak ada yang kenal. Hanya memegang kunci percaya saja bahwa kami akan membantu mereka,” jelas Ana saat ditemui di IONS International Education, Jumat (23/11).

Setelah mengantongi izin dari sang suami, Ana akhirnya mengajak rekan yang latar belakang keluarganya seniman untuk ikut andil dalam acara tersebut. Tidak jauh berbeda dengan Ana, Ani Faiqoh (45) sempat berpikir saat Ana menawari untuk bergabung dalam gala concert ini.

Di pikiran Ani, banyangan 100 mahasiswa seni ini akan sulit untuk diatur. Dalam jangka waktu pendek, Ani tidak bisa membayangkan bagaimana mengatur ratusan mahasiswa yang akan mengadakan konser.

Namun karena merasa tertantang dan memiliki teman yang dirasa mampu memberikan dukungan, akhirnya Ani memutuskan untuk ikut membantu. ”Selama 25 tahun saya mengurus suami seniman saja banyak perdebatan, apalagi ini 100 mahasiswa seni,” jelas Ani dengan nada bercanda.

Ya, gala concert yang diadakan ini adalah agenda rutin tahunan dari Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM) Orkes Mahasiswa ISI yang diselenggarakan di lingkungan kampus. Hanya saja, tiga wanita ini berinisiatif untuk menggelar acara tersebut di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) agar bisa dinikmati oleh kalangan luas.

Konser ini melibatkan sekitar 100 musisi profesional yang biasa bermain di orkestra-orkestra besar seperti Jakarta City Philharmonic, Bandung Philharmonic, Jakarta Symphony Orchestra, Twilitte Orchestra (Addie MS), Nusantara Symphony Orchestra, Purwacaraka, Dwiki Dharmawan Orchestra, dan Gita Bahana Nusantara.

Gala concert dengan tajuk “Puisi Simfonik, 3 Kisah Cinta Terlarang dalam Simfoni” akan menyuguhkan puisi dan simfonik yang merupakan bentuk format dan karakteristik musik orkestra. Sedangkan 3 Kisah Cinta terlarang diambil dari cerita tentang Romeo & Juliet, Peleas & Melisande, dan Samiraminde.
Menurutnya, lewat gala concert ini pula menunjukkan bahwa Jogjakarta memiliki perguruan tinggi bidang musik dan mahasiswanya memiliki prestasi yang dapat dibanggakan.

Selain itu, potensi anak yang besar dalam suatu bidang dan ingin terus belajar sesuatu hal yang baru membuat Ana semakin yakin untuk memberikan dukungannya kepada mahasiswa tersebut. Menurutnya, ini bukan sekadar membuat konser, menjual tiket, dan tampil. “Ada yang lebih dari itu. Yakni saat anak-anak mau belajar suatu hal yang baru,” ungkap Ana. (din/by/mg3)