Kampanye Sadar Wisata Desa/Kampung Wisata se-DIY Tahun 2018 menyasar di Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta. Kecamatan tersebut memiliki satu kampung wisata bertajuk Kampung Wisata Pandeyan.

Menyikapi keberadaan kampung wisata, Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY Dwi Wahyu Budiantoro meminta agar didesain menarik dikunjungi wisatawan. Ada banyak cara dilakukan guna menggaet turis. Di antara dengan membuat kegiatan atau even di kampung-kampung wisata. Di samping itu, melibatkan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

“Semua itu sudah tersedia. Hanya satu yang sampai sekarang belum terwakili simbol khas setiap kampung wisata sebagai identitas lokal. Itu yang belum ada,” ungkap Dwi di sela Kampanye Sadar Wisata Desa/Kampung Wisata se-DIY Tahun 2018 yang dipusatkan di Pendapa Kecamatan Umbulharjo Senin (26/11).

Karena itu, simbol khas itu harus disiapkan sedari sekarang. Sebab, kampung wisata di Kota Yogyakarta jumlah tidak sedikit. “Ada 17 kampung wisata. Potensi ini harus digarap serius,” pintanya.

Dwi Wahyu juga mewanti-wanti agar kesadaran pengelola dan masyarakat akan pentingnya Sapta Pesona. Pariwisata Jogja, sambung dia, berbasis budaya. Karena itu, dalam setiap penerima kunjungan tamu, sikap ramah harus dikedepankan. Sikap ramah itu akan memberikan kesan sekaligus kenangan. “Kesan pertama wisatawan adalah cara menyambut kedatangan mereka,” terang anggota dewan yang tinggal di Gedongan, Kotagede ini.

Lebih jauh dikatakan, kampung wisata juga memerlukan daya dukung. Di antaranya menyangkut infrastruktur. Contohnya terkait ketersediaan lahan tanah untuk menopang kegiatan seni budaya kampung wisata. Di beberapa kampung wisata, ketersediaan lahan itu menjadi kendala mereka hendak berkembang.

“Kampung wisata juga harus punya rencana kegiatan yang panjang selama setahun agar bisa menghidupkan kampung wisatanya. Jika semuanya jelas, pemerintah daerah siap mendukung,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta menyadari pariwisata tidak mungkin berkembang jika hanya didukung satu sektor. Karena itu, dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dibutuhkan. “Pengembangan pariwisata harus memenuhi 3 A,” ungkap Aris.

A pertama adalah aksesibilitas. Kota Yogyakarta punya keunggulan di bidang ini dibandingkan empat kabupaten lainnya di DIY. A kedua berupa amenitas atau kenyamanan. “A ketiga adalah atraction atau atraksi. Pariwisata butuh atraksi yang dapat dinikmati. Baik fisik, even, kuliner maupun industri kerajinan,” bebernya.

Di luar 3A itu, harus diperkuat dengan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) pengelola kampung wisata. SDM itu tergabung dalam kelompok sadar wisata (pokdarwis).

Senada dengan Dwi, Aris menilai ikon kampung wisata menjadi sesuatu yang strategis. Alasannya, hal itu menjadi penanda. Karena itu, promosi harus pula digiatkan. “Pengelola kampung wisata harus kompak. Pariwisata menjadi prioritas pembangunan di DIY,” tegas Aris.

Harjono dari Kampung Wisata Pandeyan mengapresiasi kampanye sadar wisata yang melibatkan banyak elemen. Kegiatan itu akan memberikan dorongan warga terus mengembangkan kampung wisata. “Kalau sudah memberikan manfaat dan dampak ekonomi, warga akan lebih mudah bergerak,” ungkapnya. (kus/by/mg3)