SLEMAN- Raja Pengging Prabu Damarmoyo dikalahkan oleh Raja Prambanan Prabu Boko. Prabu Damarmoyo lantas menceritakan kekalahannya kepada Joko Bandung, anaknya yang sakti mandraguna.

Bandung pun murka. Dia berniat mendatangi Prabu Boko. Menantangnya. Duel. Dalam perjalanan Bandung bertemu Bandawasa, jin maha sakti. Keduanya terlibat adu tanding. Bandung menang. Saat itulah mereka nyawiji menjadi Bandung Bandawasa.

Pertempuran Bandung Bandawasa dan Prabu Boko berlangsung berhari-hari. Bandung yang memiliki kesaktian luar biasa akhirnya bisa mengalahkan Prabu Boko. Usai perang tanding Bandung tak sengaja melihat Roro Jonggrang, putri Prabu Boko.

EKSOTIS: Pemeran Roro Jonggrang. (ELANG KARISMA DEWANGGA)

Bandung pun terpesona. Oleh kemolekan paras Roro Jonggrang. Bandung berusaha melamarnya. Namun Jonggrang tahu. Bandung adalah pembunuh ayahnya. Jonggrang pun menolak. Karena terus dirayu dan dipaksa, Jonggrang bersedia menerima pinangan Bandung dengan syarat. Dia minta dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam. Bandung yang telah dibutakan oleh cinta menyanggupi permintaan Jonggrang. Dengan kesaktiannya yang tiada tanding Bandung optimistis bisa memenuhi permintaan Jonggrang.

Dibantu prajurit jin, Bandung hampir bisa menyelesaikan seribu candi itu. Jonggrang yang melihat progres pembangunan candi tak tinggal diam. Karena sejak awal memang berniat menolak pinangan. Jonggrang pun berpikiran licik. Dibangunkannya para perempuan untuk memukul lesung. Mendengar suara lesung, ayam jago pun berkokok. Mengira hari telah pagi. Pembangunan candi tak sempurna. Karena para jin kabur. Tak berani meneruskan proyek monumental itu. Karena takut terbakar sinar matahari.

Bandung pun murka. Merasa ditipu oleh Jonggrang. Bandung lantas mengutuk Jonggrang menjadi arca. Untuk menggenapi seribu candi yang kurang sebiji.

Itulah gambaran sejarah kebudayaan Indonesia di balik mitos Candi Prambanan. Kisah sendratari tersebut dikemas ulang. Dengan konsep baru. Diluncurkan Minggu (25/11) malam. “Ada ritme baru dalam suasana berbeda,” ungkap Dirut PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Edy Setijono.

Ada beberapa perbedaan konsep pertunjukan sendratari ini. Unsur tradisional dipadukan dengan teknologi modern. Dengan teknologi video maping, tata cahaya menawan, dan musik gaya baru. “Konsepnya kontemporer,” ungkapnya.

Pertunjukan The Legend of Roro Jongrang dipentaskan 10 kali selama Desember. Dilanjutkan lagi pada Februari 2019. “Januari akan kami evaluasi dulu,” sambung Edy.

Pertunjukan sendratari bukanlah hal baru di lingkup TWC Prambanan. Mengambil sudut cerita epos Ramayana. Secara konsisten dipentaskan sejak 1961. Sebagai wujud diplomasi budaya. Sementara The Legend of Roro Jonggrang merupakan sendratari baru yang lebih variatif. Dibumbui adegan akrobatik. Serta dipoles seni modern seperti hip hop, breakdance, serta lovedance.

General Manager Unit Teater Pentas Chrisnamurti Adiningrum menambahkan, penggarapan The Legend of Roro Jonggrang butuh waktu tiga bulan. Namun pematangan konsepnya perlu waktu setahun. Melibatkan 40 penari lintas generasi. “Mayoritas penari usia dua puluhan,” jelasnya.

Pementasan berdurasi 60 menit. Disutradarai oleh Wisnu Aji. Putra pemeran Rama yang pertama kali manggung di Prambanan.

“Sasaran utamanya adalah generasi milenial. Ternyata bukan hanya anak muda yang suka. Tapi semua kalangan,” klaimnya.

Terpisah, Sasa Setiasa, wisatawan asal Bandung, mengaku terpukau dengan pertunjukan itu. Selama pertunjukan mata perempuan paro baya itu tak pernah lepas dari setiap adegan. “Bagus sekali pertunjukannya. Saya juga bisa belajar sejarah,” ujarnya. (har/yog/rg/mg3)