Tak ada wilayah di DIJ steril dari potensi bencana. Terutama banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Masyarakat harus waspada. Berbekal ilmu mitigasi bencana. Penanganan dampak bencana bukan menjadi tugas pemerintah semata. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat.

GUGURAN kubah lava Gunung Merapi dilaporkan kembali terjadi. Sejak empat hari lalu. Arah guguran per 22-23 November lalu cenderung ke arah barat laut. Rekaman CCTV Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menunjukkan luncuran guguran mengarah ke bukaan kawah. Sejauh 300 meter menuju hulu Sungai Gendol.

Kasi Gunung Merapi BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso menyatakan, material yang meluncur dalam porsi kecil. Tidak berbahaya bagi warga lereng gunung teraktif di Indonesia itu. Namun warga tetap harus waspada. Mengingat hujan mulai sering mengguyur puncak Merapi.

Hujan deras di puncak berpotensi mengalirkan lahar hujan. Berupa material vulkanik sisa erupsi. Dan guguran lava. Material vulkanik menjadi biang banjir utama di wilayah sepanjang sungai. Yang berhulu puncak Merapi dan bermuara di pantai selatan.

Volume kubah lava Merapi tercatat 308 ribu meter kubik per 21 November lalu. Pertumbuhan harian rata-rata 2.600 meter kubik. “Warga wajib memantau informasi dari sumber yang valid. Jangan panik agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat,” imbau Agus.

Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan, sedikitnya lima sungai besar menjadi pemicu banjir. Yakni, Gendol, Kuning, Opak, Boyong, dan Krasak. Semuanya berhulu di puncak Merapi. Sebagian sungai tersebut menyambung ke aliran sungai lain yang bermuara di pantai selatan. Boyong, misalnya. Menyambung dengan Sungai Code yang membelah wilayah Kota Jogja dan Kabupaten Bantul.

Potensi banjir terbesar dan mematikan justru di lereng Gunung Merapi. Seperti wilayah Turi, Pakem, Cangkringan, dan Ngemplak. Khususnya di kawasan rawan bencana (KRB) 3 Merapi.

“Kami memasang 20 early warning system (EWS). Beberapa tak berfungsi. Makanya kewaspadaan masyarakat paling utama,” ucap Makwan.

Selain wilayah sepanjang sungai berhulu Merapi, kawasan Depok, Ngaglik, dan Mlati juga berpotensi banjir. Itu lantaran sampah menyumbat saluran drainase. Sedangkan kawasan potensial bencana angin kencang meliputi: Moyudan, Godean, Gamping, Turi, dan Prambanan. Berdasarkan struktur topografinya, wilayah Sleman juga berpotensi tanah longsor. Yakni di Gamping, Seyegan, Godean, Cangkringan, dan Prambanan. “Semua kawasan perbukitan rawan longsor. Terutama saat cuaca ekstrem atau hujan deras,” jelasnya.

Kawasan paling rawan longsor di wilayah Prambanan. Antara lain: Sumberharjo, Gayamharjo, Wukirharjo, dan Sambirejo.

Di Kota Jogja Sungai Code, Gajahwong, dan Winongo menjadi momok warga bantaran. Ratusan warga menghuni kawasan itu. Selain terncam banjir aliran sungai, permukiman warga berisiko longsor. Ada yang ternacam amblas. Ada pula yang terancam kejatuhan material longsor akibat talud sungai lebih tinggi dari permukiman warga.

BERISIKO: Talud longsor di Sungai Codejuminahan,
tegal Panggung, Kota jogja hanya ditutup terpal. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Di sepanjang Sungai Winongo sedikitnya ada lima kecamatan terdampak bencana banjir. Yakni Ngampilan, Wirobrajan, Tegalrejo, Mantrijeron, dan Ngampilan. Total 549 kepala keluarga (KK) dengan 3.683 jiwa mendiami wilayah terdampak banjir Winongo.

Dampak banjir Sungai Gajahwong lebih besar. Tersebar di tujuh kelurahan. Antara lain: Baciro, Muja-Muju, Warung Boto, Rejowinangun, Pandeyan, Prenggan, dan Giwangan. Bantaran Gajahwong dihuni 1.341 KK atau 6.705 jiwa. “Ada sekitar 556 rumah di bantaran Gajahwong. Ada 232 lansia dan 667 anak-anak,” ungkap Operator Pusat Pengendalian Operasi Bencana (Pusdalops) BPBD Kota Jogja Suyatman.

Saat erupsi Merapi 2010 permukiman di bantaran Code menjadi kawasan terdampak banjir lahar hujan. Tersebar di enam wilayah kecamatan di Kota Jogja. Yakni Tegalrejo, Gondokusuman, Danurejan, Pakualaman, Jetis, Mergangsan, Umbulharjo, dan Gondomanan.

Soal ancaman tanah logsor, Suyatman mengaku telah mengantisipasi dengan talud. Kendati demikian, itu bukan jaminan keamanan. “Masyarakat harus peka terhadap kondisi alam di sekitarnya,” ujar Suyatman.

Beda wilayah lain pula karakteristik pemicu bencana banjir. Sungai berhulu pantai selatan di wilayah Bantul tak hanya membawa sisa material vulkanik Merapi. Pendangkalan sungai lebih disebabkan tumpukan sampah. Dari wilayah Kota Jogja dan Sleman. “Warga bantaran harus rajin membersihkan sampah jika tak ingin air sungai meluap,” tegas Plt Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto.

BPBD Bantul membagi kawasan rawan bencana banjir dan tanah longsor dengan sistem zona. Ada zona merah: bahaya, kuning: waspada, dan hijau: aman. Kawasan potensi banjir meliputi: Desa Imogiri, Karangtalun, Karangtengah, Selopamioro, Sriharjo, Wukirsari, Sumberagung, dan Trimulyo. “Setiap desa punya kerentanan masing-masing,” katanya.

Sedangkan zona rawan longsor terdiri atas Desa Girirejo, Karangtengah, Mangunan, Muntuk, Seloharjo, Selopamioro, Sriharjo, Srimulyo, Wukirsari, Srimartani, Wonolelo, Jatimulyo. Selain itu ada di Terong, Sendangsari, Triwodadi, dan Guwosari. Ada 2.335 KK terdampak tanah longsor.

“Walaupun tidak semua. Ada beberapa zona merah di sana,” jelas Manajer Pusdalops BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah.

Sejak 2008 Pemkab Bantul merelokasi warga di daerah rawan bencana. Sedikitnya 5-10 KK per tahun.

Guna mencegah korban nyawa, warga diimbau melakukan relokasi mandiri. Terutama warga yang selama ini tinggal di kawasan perbukitan gundul. (dwi/har/cr5/ega/yog/rg/mg3)

Jangan Anggap Sepele Langkah Pencegahan

KONDISI geografis sebagian besar wilayah Gunungkidul berupa dataran tinggi. Namun bukan berarti Gunungkidul bebas banjir. Buktinya saat badai siklon tropis Cempaka akhir 2017 lalu. Air bah menggenangi hampir semua kawasan. Tak terkecuali wilayah Tepus dan Tanjungsari di zona selatan terbilang jauh dari bantaran sungai. Zona merah banjir di Gunungkidul mulai di pusat kota Wonosari, Playen, Semin, Ngawen, Nglipar, dan Patuk. Tapi saat cuaca ekstrem, semua wilayah bisa terdampak banjir.
Data rehabilitasi dan rekonstruksi bencana siklon Cempaka menunjukkan, sebanyak 402 rumah rusak. Terdiri atas 150 rumah rusak berat, 94 rusak sedang, dan 158 rusak ringan. Total jumlah warga terdampak 3.276 jiwa. Sebagian di antaranya direlokasi di tempat aman.
“Kalau ancaman angin puting beliung tersebar di 18 kecamatan. Rawan longsor di Gedangsari, Patuk, Nglipar, Ngawen, dan Ponjong bagian utara,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki.
Kades Ngeposari, Semanu Ciptadi membenarkan wilayahnya termasuk terdampak parah siklon Cempaka 2017. Puluhan rumah rusak. Sebagian warga terdampak diungsikan. “Kami monitor terus lubang-lubang dalam tanah (luweng) yang bisa menjadi resapan air alami saat hujan,” ungkapnya.
Sementara daerah rawan bencana di Kulonprogo tersebar di 10 kecamatan. Dari total 12 kecamatan yang ada. Tanah longsor terpusat di wilayah utara. Di sekitar Perbukitan Menoreh. Meliputi enam wilayah kecamatan. Yakni Girimulyo, Kalibawang, Samigaluh, Kokap, Nanggulan, dan Pengasih.
Sedangkan kawasan rawan banjir di sisi selatan yang berupa dataran rendah. Antara lain: Kecamatan Lendah, Panjatan, Temon, dan sebagian Wates.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kulonprogo Heppy Eko Nugroho menuturkan, banyak hal yang tampak sepele namun cukup krusial sebagai langkah pencegahan bencana. Misalnya memangkas tanaman keras yang berdekatan dengan rumah tinggal. Guna antisipasi dampak pohon tumbang akibat puting beliung. Atau mencermati kondisi tanah labil yang berpotensi longsor. “Hal-hal sepele yang kurang mendapat perhatian itu terkadang bisa berakibat bencana,” ingatnya.(gun/tom/yog)