Destana menjadi resep pemerintah daerah di DIJ sebagai langkah antisipasi bencana. Warga destana (desa tangguh bencana) dibekali ilmu dan keterampilan mitigasi bencana. Mereka menjadi ujung tombak mana kala terjadi bencana.

JAUH HARI WS, Sleman

Ratusan warga lereng Merapi berlatih penanganan pertama pada kecelakaan (P3 K) beberapa waktu lalu. Mulai menggotong korban menggunakan dragbar, mengobati luka, memasang perban, hingga memberi pernapasan buatan. Itulah gambaran pelatihan mitigasi bencana di kawasan rawan erupsi Gunung Merapi. Ratusan warga Kecamatan Cangkringan terlibat. Mereka adalah penghuni kawasan permukiman tertinggi di wilayah Sleman. Sekaligus paling dekat dengan puncak Merapi. “Jarak rumah warga dari puncak lima kilometer masih relatif aman. Tapi mereka harus selalu waspada,” ujar Kepala BPBD Sleman Joko Supriyanto.

Sebagian besar desa di lereng Merapi masuk kategori destana. Warga menerapkan pola living in harmony with disaster.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menuturkan, warga destana harus selalu waspada. Terhadap setiap kemungkinan terjadi bencana sewaktu-waktu.

“Sing penting prayitno, setiti, lan ati-ati,” tuturnya. Selain destana, Pemkab Sleman terus menggencarkan sosialisasi sekolah siaga bencana. Khususnya sekolah di kawasan rawan bencana. Sistemnya hampir sama. Para siswa dilatih mitigasi bencana.

Warga lereng Merapi memang mulai paham risiko bencana. Setidaknya belajar dari pengalaman menghadapi erupsi Merapi 2010. Hingga dampak susulannya. Berupa banjir lahar hujan di wilayah sepanjang aliran sungai berhulu Merapi.

Totok Hartanto, salah satunya. Warga Desa Wukirsari, Cangkringan itu kehilangan rumahnya akibat erupsi. Kini dia sudah berbenah. Dia sadar jika Merapi sewaktu-waktu erupsi. Kendati demikian, dia bersama warga lain berusaha hidup dengan ancaman bencana itu. “Kan Merapi juga sumber penghidupan kami,” dalihnya. Dia bahkan menilai Merapi bukan sebagai ancaman. Baginya, konsep living in harmony with disaster adalah saling menjaga. “Ya menjaga alam, menjaga lingkungan,” katanya.

Soal mitigasi, lanjut Totok, bukan menjadi kendala. Perkembangan media sosial dan internet sungguh nyata membantu. Info update bencana di akun resmi BPPTKG menjadi rujukan pergerakan warga. “Kami melihat sesuai instruksi saja,” ungkapnya.

Langkah serupa ditempuh Pemkab Bantul. Minggu (25/11) Desa Srihardono, Pundong resmi ditetapkan sebagai destana terbaru. Oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bantul. “Ini menjadi awal pemberdayaan masyarakat tangguh bencana,” ujar Ketua Umum FPRB Bantul Hery Ruswanto di Lapangan Pundong Minggu (25/11). Warga Destana Srihardono dilatih banyak hal. Mulai penyelamatan kecelakaan sungai, simulasi longsor, banjir, hingga gempa bumi. Ini sesuai karakteristik bencana yang kerap terjadi di Bumi Projotamansari. Lurah Srihardono Awaludin menyambut positif kehadiran FPRB. Anggaran pelatihan disiapkan. Dengan dana desa. Dialokasikan lewat APBDes.

Pemkab Gunungkidul pun tak mau kalah. Sejauh ini tak kurang 47 destana diresmikan. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki optimistis, warga destana punya kesadaran tinggi menghadapi risiko bencana. “Mereka juga lebih peka dengan kondisi sekitar. Jika hujan deras berjam-jam disarankan segera pindah ke lokasi aman,” katanya.

Tak hanya itu saja upaya Pemkab Gunungkidul untuk antisipasi dini dampak bencana. BPBD memperluas jaringan cepat tanggap bencana lewat grup WhatsApp. Seluruh anggota saling menginformasikan kondisi terkini setiap terjadi bencana. Dengan demikian petugas bisa dengan cepat melakukan upaya penanganan. Guna mencegah jatuhnya korban jiwa. Sekaligus menekan kerugian materiil.

Jika Sleman dan Bantul punya destana, Kota Jogja memiliki kampung tanggap bencana (KTB). Konsepnya hampir sama. Warga KTB dibekali ilmu dan keterampilan mitigasi bencana. Sesuai dengan karakteristik bencana yang kerap melanda. Setiap KTB juga dilengkapi alat-alat penunjang penanggulanan bencana. Salah satu yang cukup krusial adalah pompa air. Bagi kampung di bantaran sungai. (yog/dilengkapi Sukarni Megawati dan Iwan Nurwanto/mg3).