SLEMAN – Proses pemugaran atap Candi Kalasan terkendala turunnya hujan. Mau tidak mau pemugaran harus berulang kali terhenti. Padahal pemugaran ditargetkan selesai pada 12 Desember 2018.

Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ Wiwit Kasiyati mengakui tidak mudah memugar candi tersebut. Tingkat penggaraman di sisi puncak tergolong cukup serius.

“Penggaraman batu batu candi akibat air hujan yang selama ini menerpa puncak candi. Apalagi sudah dari dulu bagian puncak memang terbuka, sehingga sudah terpapar sangat lama,” kata Wiwit Minggu (25/11).

Dijelaskan, tahapan pemugaran belum mencapai proses inti. Selama ini, proses masih dalam tahapan pemasangan scaffolding di dalam maupun luar bilik candi. Pembongkaran atap direncanakan berlangsung pekan depan.

Pemugaran Candi Kalasan dimugari 15 Oktober 2018. Pengerjaan terhambat cuaca. Saat hujan turun, tim dan tenaga ahli menyudahi pemugaran.

“Risiko utama adalah tersambar petir karena berada di tempat yang tinggi. Jadi memang harus berhenti dahulu,” ujarnya.

Penutupan atap juga bertujuan mengusir kelelawar. Wiwit menuturkan kombinasi air hujan dan kotoran kelelawar sangat berdampak pada batu candi. Terutama untuk tingkat pelapukan akibat penggaraman.

BPCB DIJ menerjunkan 30 orang dalam pemugaran tersebut. Ada empat orang tenaga ahli sesuai bidang keilmuan. Mereka ahli teknik sipil, kimia, konservasi, dan ahli pemugaran.

“Selain menutup atap, pemugaran juga bertujuan sebagai penelitian,” katanya.

BPCB DIJ menganggarkan Rp 600 juta untuk memugar Candi Kalasan. Hingga saat ini penemuan batu candi belum memenuhi persentase kesamaan antara 80 hingga 85 persen.

Candi yang dibangun sekitar tahun 778 tersebut memiliki keistimewaan. Sisi luar dilapisi bajralepa, tak ubahnya sebuah plester atau lapisan vernis ukuran batus halus. (dwi/iwaer/mg3)