BANTUL – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bantul serius ingin mengambil peran dalam mewujudkan masyarakat Bantul yang cerdas. Itu ditandai dengan masifnya program dispusip yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Yang terbaru, Satgas Literasi.

”Satgas Literasi baru dibentuk tahun ini,” jelas Kepala Dispusip Bantul Agus Sulistiyana di kantornya pekan lalu.

Agus Sulistiyana. (ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA)

Hingga sekarang ada tiga dusun yang memiliki Satgas Literasi. Dua di antaranya terletak di Desa Donotirto, Kretek. Yaitu, Metuk dan Greges. Satu lainnya di Dusun Bekelan, Sumbermulyo, Bambanglipuro. Semuanya telah dikukuhkan dinas.

Agus menyebut Satgas Literasi di setiap dusun beranggotakan sepuluh kader. Satgas ini tidak hanya bertugas membangun dan mengembangkan perpustakaan di wilayah mereka agar lebih menarik. Melainkan juga menumbuhkembangkan sekaligus membudayakan tradisi membaca masyarakat. Serta bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.

”Contohnya, satgas kerja sama dengan sekolah di dusun itu terkait perpustakaan keliling,” tuturnya.

Berbagai peran satgas ini, Agus meyakini dapat menjadi jawaban atas rendahnya minat baca masyarakat. Membangun dan mengembangkan perpustakaan, contohnya. Tidak sedikit kampung di Bumi Projotamansari memiliki perpustakaan. Tapi, jamak di antaranya yang ”mati suri”. Warga sekitar jarang mengaksesnya. Itu akibat tidak ada yang berperan dalam pengembangannya.

”Nah, satgas mengambil peran untuk mendorong dan mengelola perpustakaan dengan baik,” ucapnya.

Agus optimistis seluruh kader Satgas Literasi dapat mengampu berbagai peran itu. Dia juga meyakini mereka  punya kapasitas lebih lain. Yakni, mengajak masyarakat agar melek teknologi. Sebab, mayoritas kader satgas dari kalangan pemuda. Mereka tercatat sebagai mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di D.I Jogjakarta.

”Dan perkembangan teknologi ini perlu disampaikan kepada masyarakat. Itu sebagai bekal menatap era revolusi industri 4.0,” katanya.

Menurutnya, Satgas Literasi sebagai salah satu implementasi inovasi dispusip. Yakni, opera malam bali (optimalisasi peran dari masyarakat untuk wujudkan Bantul literasi). Lantaran melibatkan masyarakat untuk mengembangkan perpustakaan hingga membudayakan tradisi membaca baca.

”Seluruh kader satgas diberikan pelatihan, bimbingan, dan pembinaan,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Perpustakaan, Dispusip Bantul Eny Laksmitowati menambahkan, program lain yang digagas dispusip untuk meningkatkan minat baca masyarakat adalah Pojok Baca. Program ini berjalan beriringan dengan Satgas Literasi. Meski, Pojok Baca telah diinisiasi sejak 2017.

”Total ada 13 Pojok Baca yang kami bangun. Pada 2017 3 unit dan 2018 sebanyak10 unit. Pada 2019 targetnya bertambah 16 pojok baca,” sebutnya.

Pojok Baca, menurut Eny, bisa disebut perpustakaan mini. Koleksinya sekitar 200-300 judul buku. Yang berbeda, Pojok Buku tidak hanya melayani peminjaman buku. Lebih dari itu, juga menjadi tempat diskusi hingga praktik.

Ya, masyarakat dapat meminta bedah buku kepada Pojok Baca. Temanya sesuai permintaan dan kebutuhan mereka. Mulai bidang pertanian, budidaya ikan, hingga kerajinan tangan. Menariknya, Pojok Baca juga bakal menghadirkan pembedah buku sesuai bidangnya masing-masing. Pertanian, contohnya. Pojok Baca bakal mengundang praktisi dari dinas pertanian, pangan, kelautan, dan perikanan.

”Masyarakat juga dapat langsung mempraktikkan materi bedah bukunya di Pojok Baca,” tegasnya.

Dengan berbagai kelebihan Pojok Baca, Eny optimistis dunia literasi dapat mewujudkan dua visi bupati-wakil bupati. Yaitu, mencerdaskan sekaligus menyejahterakan masyarakat Bantul. Sebab, masyarakat dapat langsung menerapkan pengetahuan baru sesuai bidangnya masing-masing. Setelah membaca, membedah, dan mempraktikkan teori baru dari buku.

”Dari itu, kami targetkan seluruh dusun di Bantul pada 2021 punya pojok baca,” harapnya.

Bupati Bantul Suharsono terus mendorong munculnya berbagai terobosan baru dalam dunia literasi. Harapannya agar membaca buku dapat menjadi kebutuhan. Bahkan, tradisi. Menyusul era tsunami informasi.

”Dengan tradisi membaca, masyarakat bisa menyaring berbagai informasi hoax yang banyak beredar di media sosial,” ingatnya. (**/zam/by/mg3)