Kampanye Sadar Wisata Desa Wisata/Kampung Wisata se-DIY Tahun 2018 kembali digulirkan Dinas Pariwisata DIY. Lokasinya dipusatkan di sejumlah desa wisata di Kabupaten Kulonprogo. Yakni Desa Wisata Hargorejo, Kokap pada Rabu (21/11) Desa Wisata Samigaluh pada Kamis (22/11) dan Desa Wisata Banjarsari, Kalibawang Jumat (23/11).

Anggota Komisi B DPRD DIY Sudarto tampil sebagai salah satu narasumber. Di depan para pengelola desa wisata, Sudarto mengingatkan pariwisata erat kaitannya dengan perekonomian. Berkembangnya pariwisata harus memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat. “Khususnya warga yang berada di sekitar destinasi wisata tersebut,” ujar Sudarto Jumat (23/11).

Dengan manfaat ekonomi itu diharapkan berdampak pada peningkatkan pendapatan warga. Muaranya, kesejahteraan masyarakat juga menjadi lebih baik. Melihat peluang itu, Sudarto meminta setiap pengelola desa wisata di Kulonprogo terus berbenah. Tantangan yang dihadapi tidak mudah.

Para pengelola, lanjut dia, harus bisa mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada. “Baik kekayaan budaya maupun potensi alam. Pijakan desa wisata hanya dua. Potensi budaya serta alam. Sepanjang semua dikelola dengan baik akan memberikan manfaat,” terangnya.

Dia juga mengapresiasi dengan inovasi dan kreativitas pengelola desa wisata. Potensi yang ada dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik pengunjung. Banyak desa wisata di DIY telah membuktikannya.

Sekretaris Dinas Pariwisata DIY Rose Sutikno mengingatkan, inovasi pengelola desa wisata mutlak diperlukan. Bahkan inovasi itu menjadi tuntutan sekaligus kebutuhan. “Inovasi mendatangkan kreativitas,” ungkap Rose.

Persoalan lain yang perlu mendapatkan perhatian desa wisata adalah pengembangan pasar. Tujuannya demi menarik kedatangan wisatawan. “Tanpa adaya pengembangan pasar jangan harap pengelolaan desa wisata bisa berkembang,” kata dia.

Rose ingin pemasaran desa wisata di Kulonprogo bersifat massif dan membahana. Terutama dalam memasarkan potensi alam dan budaya. Objek wisata juga harus diolah agar membuat pengunjung takjub. Misalnya ramai-ramai memanfaatkannya untuk selfie atau berswafoto. “Gejala semacam itu terjadi di mana-mana,” lanjut Rose.

Sebelumnya, kampanye sadar wisata juga dilakukan di puncak Suroloyo, Samigaluh. Anggota Komisi B DPRD DIY Ida Nunung Mundarsih meminta para pelaku wisata agar mengembangkan destinasi wisata Kulonprogo. Tujuannya agar wisatawan bisa tinggal lebih lama di Kulonprogo. “Kalau wisatawan sekadar datang terus pulang dan tidak menginap itu bukan turis. Tapi pengunjung,” tutur Nunung.

Kesiapan mengembangkan desa wisata itu dibutuhkan sebagai respons hendak beroperasinya bandara internasional yang berada di Temon, Kulonprogo. Apalagi pemerintah daerah sedang menggencarkan Bedah Menoreh. Kegiatannya antara lain meningkatkan infrastruktur di kawasan perbukitan Menoreh. “Kesiapan itu harus dibangun sejak sekarang. Jangan sampai terlambat,” pinta Nunung. (kus/by/mg3)