JOGJA – Tantangan besar menanti para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di DIJ. Mereka diminta tidak sekadar menembus pasar internasional. Lebih dari itu, juga meningkatkan kualitas dan persentase ekspor ke berbagai benua. Sebab, New Yogyakarta International Airport (NYIA) tidak hanya menjadwalkan direct flight ke berbagai negara di Asia Tenggara. Melainkan juga ke belahan dunia lainnya.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

General Manager PT Angkasa Pura 1 (AP-I) Agus Pandu Purnama memastikan fasilitas di NYIA mendukung eskpor UMKM. Itu ditandai dengan kapasitas bandara. Landasan pacu, misalnya. Dengan panjang 3.250 meter, pesawat milik maskapai internasional yang notabene berbadan basar dapat take off dan landing dengan mulus. Dengan begitu, ekspor produk UMKM ke berbagai negara menjadi lebih mudah.

”Bandara baru (NYIA) nanti turut mendukung ekspor produk-produk tersebut (UMKM),” jelas Pandu di sela Grebeg UMKM Jogjakarta 2018 Jumat (23/11).

Kondisi itu berbeda dengan pemasaran produk UMKM selama ini. Pandu tak menutup mata bahwa produk UMKM DIJ memang mampu menembus pasar internasional. Seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, bahkan Amerika Serikat. Persoalannya adalah bukan perkara gampang mengekspor ke berbagai negara itu. Pelaku UMKM setidaknya harus dua kali kerja untuk mengekspor produknya. Mereka harus mengirim produknya ke Surabaya atau Jakarta dulu. Yang notabene memiliki bandara berstandar internasional.

”Yang bisa dikirim langsung (dari Jogjakarta selama ini, Red) hanya ke Malaysia dan Singapura,” ujarnya.

Kendati begitu, Pandu mewanti-wanti para pelaku UMKM harus meningkatkan kualitas produknya. Agar benar-benar layak menembus pasar internasional. Meski sebagian produk UMKM lokal mendapat respons positif dari pasar internasional.

”Sangat luar biasa. Hanya saja butuh pembinaan. Pemerintah juga harus aktif mengajak UMKM mengikuti pameran internasional,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Pandu juga berpesan agar produk UMKM tidak terbatas handycraft dan food and baverage. Sebab, marine products juga berpotensi memiliki pasar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIJ Budi Hanoto menyebut, ada 65 pelaku UMKM yang mengikuti grebeg. Mereka sudah melalui penyaringan dan kurasi. Standarnya nasional.

”Penyaringan dilakukan kurator level nasional lewat Bekraf,” jelasnya.

Standar nasional itu, kata Budi, untuk meningkatkan kualitas produk, daya saing, dan proses produksi. Agar UMKM yang mengikuti grebeg berkualitas premium.

”Bagi yang tidak lolos produksi akan kami bina terus. Mereka akan menjadi priority partner kami,” tuturnya. Dikatakan, pendampingan dan pembinaan kepada pelaku UMKM yang belum lulus pun bertujuan untuk menaikkan kelas produk.

Terkait pemasaran, Budi mengaku pihaknya telah bekerja sama dengan PT AP-I, dan Pemkab Kulonprogo. untuk mendirikan showcase UMKM.
”Masih dalam tahap diskusi. Tapi paling tidak nanti ada showroom untuk UMKM lokal Jogja,” ujarnya. (cr9/zam/fj/mg3)