JOGJA – Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menilai perlu perubahan kurikulum pendidikan. Itu untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap bersaing di era revolusi industri digital 4.0, diusulkan.

Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemkominfo Gun Gun Siswadi mengaku sudah menjalin komunikasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi terkait hal itu.

“Kami dorong agar kurikulum kita disesuaikan karena kita sudah masuk ke era digital, revolusi 4.0, tidak harus berubah total tapi bersinergi agar bisa maksimal pemanfaatan era ini,” ungkapnya di sela Dialog Publik Tantangan SDM Menghadapi Disrupsi Era Revolusi Digital Jumat (23/11).

Saat ini Kominfo juga sedang mempersiapkan infrastruktur. Termasuk untuk memastikan 540 kabupaten kota di Indonesai seluruhnya ditarget sudah terakses dengan infrastruktur jaringan komunikasi memadai. Terutama daerah yang menyandang status 3T: Terdepan, Terluar, dan Tertinggal.

“Untuk Indonesia barat sudah 100 persen, Indonesia tengah saat ini tercapai 70 persen, dan Indonesia Timur targetnya 2019,” ujarnya.

Menurut dia selain penyiapan infrastukrtur jaringan, juga harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan SDM. “Jadi ada dampaknya pada kesejahteraan,” tuturnya.

Sementara itu anggota Komisi 1 DPR RI Sukamta juga menilai penyiapan SDM untuk bersaing di era revolusi digital belum maksimal. Dalam dialog yang diikuti ratusan guru itu, Sukamta menuturkan Indonesia perlu segera menyiapkan rencana strategis agar bisa lebih fokus mempersiapkan generasinya agar siap bersaing.

Politikus PKS itu mengusulkan kurikulum pendidikan juga membuat pilihan yang memungkinkan anak didik bisa fokus pada bidang yang diminati. Serta proyeksi kebutuhan di masa datang. Seperti akan berfokus pada sistem robotika, intelegensi buatan (AI), big data atau varian cabang pengetahuan digital lain.

“Termasuk perguruan tinggi yang menghasilkan para guru, perlu dipersiapkan agar guru-guru yang kelak mengajar juga bisa adaptif,” jelasnya.

Menurut dia tidak ada salahnya mencontoh Tiongkok, yang sudah mempersiapkan rakyatnya untuk 5-20 tahun kedepan. Diantaranya mengubah kurikulum dengan memasukkan materi digital seperti AI. “Kalau kurikulum masih tradisional anak semakin bosan di sekolah. Anak harus belajar sesuai duniannya jangan sampai sekolah tak bisa mengakomodasi dunia baru ini,” pesannya. (cr7/pra/by/mg3)