Bakat Abinaya Ghina Jamela hanya bermula dari menulis diari. Kegemarannya membaca juga hanya dari komik dan buku gambar. Kini, bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu melahap salah satu buku tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer.

FAIRIZA INSANI, Jogja

Sudah tak terhitung lagi berapa penghargaan yang telah diraih Naya, sapaan Abinaya Ghina Jamela. Yang terbaru, Kamis (22/11). Saat siswi SD Negeri Gondolayu itu memperoleh penghargaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja dalam ajang Anugerah Lingkungan Hidup Kota Jogja. Dalam kategori literasi lingkungan.

”Sering dapat. Nggak tahu sekarang ada berapa (penghargaan, Red),” tutur Naya dengan wajah semringah usai menerima penghargaan.

Usia Naya memang masih sembilan tahun. Namun, hingga sekarang dia telah menulis sekitar 70 judul puisi. Termasuk di antaranya puisi berjudul sampah. Karya tulis yang mendapat penghargaan dari DLH Kota Jogja itu.

Saat berbincang dengan Radar Jogja, bocah perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, itu masih mengenakan seragam khas SD. Dia ditemani pamannya, Nermi Silaban.

Dia bercerita bahwa ide-ide tulisannya tidak muncul tiba-tiba. Itu dari pengalamannya. Baik pengalaman saat jalan-jalan bersama keluarga, menonton film, hingga membaca buku.

”Seperti Bumi Manusia,” ucap Naya menyebut bahwa salah satu tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer adalah favoritnya.

”Dia (Naya) juga suka membaca karya Sir Arthur Conan Doyle,” sahut Nermi berkelakar tokoh Sherlock Holmes dalam karya penulis Inggris itu sempat mendorong keponakan kesayangannya bercita-cita menjadi detektif.

Nermi ingat betul bakat Naya sudah terlihat saat masih balita. Persisnya ketika menginjak usia lima tahun. Kedua orangtuanya mendekatkan buah hatinya dengan beragam koleksi buku anak-anak. Rupanya bocah kecil itu meresponsnya. Lama-kelamaan, kedua orangtuanya memberikan menu buku tambahan. Seperti ensiklopedi dan novel anak-anak.

Yang menarik, Nermi maupun kedua orangtuanya tak pernah membiarkan Naya mencerna sendiri materi buku yang dilahapnya. Mereka aktif mengajak Naya kecil berdiskusi. Ternyata, diskusi kecil-kecilan ini justru memancing rasa penasaran Naya terhadap berbagai hal baru.

”Jadi, setelah dia membaca suatu buku, nggak kita biarkan. Tapi kita mengajaknya untuk ngobrol,” tuturnya.

Bersamaan, Naya kecil juga mulai hobi menulis. Meski sekadar menulis diari. Berbagai pengalamannya setiap hari ditulis dalam buku kecil yang mereka sebut jurnal.

”Kami menyebut itu (diari) sebagai jurnal. Jadi, setiap habis jalan-jalan, dia menulis beberapa kalimat,” ujarnya.

Tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis dalam keluarga kecil ini berjalan apik. Tradisi itu pula yang memengaruhi Naya dalam setiap karyanya. Termasuk puisi berjudul sampah. Sangat dipengaruhi pemikirannya terhadap lingkungan sekitar.

Menurutnya, seluruh puisi karya Naya saat ini telah dikumpulkan. Menjadi satu buku. ”Semuanya tetap murni ide dari Naya. Paling kami hanya membenahi logika atau pengeditan,” kata pria asal Sumatra itu.

Kendati kemampuannya melebihi usianya, Nermi menekankan, keluarga tidak pernah memaksa Naya untuk berkompetisi. Keluarga hanya mendorong dan memfasilitasi keinginannya untuk berkarya. (zam/fj/mg3)