JOGJA – Masa depan becak motor (betor) semakin gelap. Moda transportasi yang sering dianggap melanggar regulasi itu telah ada penggantinya. Namanya Bregada dan Belia (becak listrik Android). Jumat (23/11) dua prototipe becak listrik itu diuji coba sekaligus disosialisasikan.

Bentuk dua prototipe ini mirip dengan becak konvensional. Yang membedakan hanya alat penggeraknya. Dua prototipe ini dilengkapi dengan motor listrik.

Nah, jika Belia menggunakan medium torsi, Bregada dibekali dengan komposisi dapur pacu yang lebih besar. Alias high torsi. Torsi ini berpengaruh terhadap kekuatan dan kecepatan becak.

Rudy Winarso, penemu Belia mengungkapkan, motor listrik yang terpasang di roda belakang berjenis BLDC. Kekuatannya mampu mengangkut beban hingga 150 kilogram. Atau setara dengan penumpang dua orang dewasa. Sedangkan sumber penggerak mengandalkan aki berkapasitas 300 watt, sehingga dapat melaju dengan kecapatan 60-70 kilometer per jam.

SUMBER TENAGA: Belia dibekali dengan alat penggerak berupa motor listrik. Tenaganya mengandalkan aki.

”Kelebihan lainnya ramah lingkungan dan minim polusi, serta bisa berjalan mundur,” jelas Rudy di sela uji coba dan sosialisasi becak tenaga kayuh di Balai RW Gedongtengen, Jalan Jlagran Kota Jogja.

Menurutnya, Belia dikembangkan sejak 2010. Dalam masa uji coba, Belia pernah diuji coba melahap perjalanan puluhan kilo meter. Salah satunya dari Jalan Malioboro hingga Candi Borobudur melalui Jalan Magelang. Namun, daya aki habis saat perjalanan pulang. Saat tiba di kawasan TVRI.

”Untuk tenaga listriknya bisa ditambah dengan daya yang lebih besar,” katanya.

Ide pembuatan Belia, kata Rudy, berawal dari keluhan tukang becak konvensional. Mereka yang notabene berusia di atas 40 tahun tidak mampu ketika mengayuh becak konvensional. Di sisi lain, betor dianggap menyalahi aturan.

”Harapannya bisa meringankan beban para pengayuh becak yang mungkin sudah berusia senja,” ucapnya.

Sama moda transportasi lainnya, Belia juga dilengkapi dengan standar keamanan yang memadai. Seperti rem. Ada dua rem yang terpasang. Pertama, rem cakram. Tuasnya berada di kemudi becak. Tuas rem kedua berada di bawah sadel. Persis dengan becak kayuh pada umumnya.

STANDAR KEAMANAN: Belia dilengkapi dengan dua rem. Salah satu tuasnya di kemudi becak.

Rudy menyebut biaya perawatan Belia sangat murah. Toh, pengisian daya aki cukup dengan pengecasan.

”Akinya bisa bertahan sampai lima tahun. Tergantung kualitas penggunaan,” kata Rudy menyebut pembuatan Belia membutuhkan biaya Rp 17 juta.

Kendati telah layak jalan, Rudy mengaku masih ada PR lainnya. Di antaranya dukungan pemerintah. Pemerintah perlu membangun stasiun pengecasan di beberapa pangkalan.

PR lainnya adalah pengembangan aplikasi Android. Menurut Rudy, aplikasi itu untuk memudahkan wisatawan memesan jasa Belia. Seperti aplikasi Go-Jek atau Grab.

”Aplikasi pemesanan Bregada rencananya akan disatukan dengan program Jogja Istimewa yang telah dimiliki pemprov,” tambahnya.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Hary Agus Triyono mendukung penuh pengembangan dua prototipe becak. Dia menilai dua prototipe itu sesuai dengan regulasi. Lantaran tidak mengubah bentuk becak. Juga masih menggunakan kayuh.

”Penambahan tenaga listrik saya rasa adalah sebuah inovasi untuk menjawab perkembangan zaman,” katanya.

Dari itu, Hary sepakat jika becak listrik ini mengganti peran betor. Namun, dia belum dapat berkomentar banyak dengan rencana produksi masal. Sebab, dishub bakal menguji dua prototipe becak ke Kementerian Perhubungan. Itu untuk memastikan apakah sudah sesuai dengan ketentuan peraturan atau belum.

”Kami juga masih menunggu tanggapan dari para pengemudi betor,” tambahnya.

Di kalangan pengemudi betor, keberadaan Belia maupun Bregada menuai respons positif. Hanya, mereka menilai, harga pembuatannya terlalu mahal.

”Seumpama ada tawaran kredit, ya, kami harap angsurannya ringan,” harap Muhnur Widya Kuncoro, 49, seorang pengemudi betor yang tergabung dalam Paguyuban Becak Wisata Malioboro. (cr5/zam/fj/mg3)