Batu akik sempat bombastis. Dulu. Kini trennya kian surut. Hasil kreasi Budi Santoso membuat harga batu akik tetap selangit. Warga Bumirejo, Lendah, Kulonprogo itu mengubah koleksi batu akik mentah miliknya menjadi lukisan mozaik.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

SIAPA tak kenal batu akik? Pamornya kini redup. Namun, di tangan kreatif Budi Santoso derajat batu akik tetaplah tinggi. Meski wujud aslinya masih mentah. Bahkan berserakan di rumahnya. Budi memanfaatkannya sebagai bahan membuat lukisan. Mozaik. Hasilnya, sungguh luar biasa.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Beberapa tokoh pewayangan dijadikan objek lukisan. Sebut saja Pandawa Lima dan Punakawan. Ada pula Nyi Roro Kidul, sang ratu laut selatan. Pun demikian tokoh-tokoh nasional. Lukisan Presiden Joko Widodo pun terpajang di dinding rumahnya. Banyak yang tak menyangka jika lukisan itu berbahan batu akik. “Ya, seperti inilah hasilnya,” ungkap Budi sambil memamerkan salah satu karyanya kepada Radar Jogja Rabu (21/11).

Budi dulunya seorang pengrajin batu akik dan batu mulia. Ide membuat lukisan mozaik berawal ketika batu akik mulai ditinggalkan penggemarnya. Sementara, sebagai pengrajin, Budi masih memiliki banyak bahan mentah. Yang belum diolah menjadi akik. Eman-eman. Budi lantas memutar otak. Bagaimana memanfaatkan bahan batu akik itu agar memiliki nilai guna. Sekaligus nilai ekonomi. Dasar seniman, ide mengubah sesuatu menjadi karya seni mengalir begitu saja. Hasilnya, lukisan mozaik.

Mulailah Budi mengumpulkan bahan-bahannya. Yang teronggok di rumahnya, yang juga menjadi bengkel produksi. Jumlahnya cukup banyak. Sehingga dia tak kesulitan bahan baku. Untuk membuat lukisan mozaik.

Batu akik yang digunakan cukup beragam. Ada jenis pancawarna, kalsedon, jasper, hingga giok. Batu-batu itu dulu sempat merajai dalam setiap kontes batu akik di berbagai daerah. Batu-batu dicincangnya. Hingga berukuran kecil-kecil. Tak ada lagi rasa sayang untuk mengubah batu-batu tersebut dari bentuk aslinya. Setelah dipotong kecil, batu itu lalu dipipihkan. Menggunakan gerinda. “Ukurannya saya sesuaikan kebutuhan warna,” jelasnya.

Pengerjaannya pun tak sembarangan. Butuh skill dan jiwa seni tinggi. Apalagi bahan baku yang dipakai kelewat mahal harganya. Meski itu dulu.

Melukis mozaik butuh kejelian. Juga presisi tinggi. Detail. Agar hasilnya sesuai yang diharapkan.

Pola lukisan dia buat lebih dulu. Potongan batu akik lantas ditempelkan mengikuti pola lukisan. Menggunakan lem khusus. Setiap potongan batu ditempel satu per satu. Dengan ekstra sabar. Dan sentuhan seni tinggi. Setiap potongan batu harus ditata serapi mungkin. Supaya tampak elegan. “Karena eksotisme warga setiap jenis batu berbeda-beda,” jelas Budi. “Maka pola penempelannya harus pas. Agar perpaduan warnanya tampak istimewa,” lanjutnya.

Proses berikutnya finishing. Budi memoleskan cairan khusus di atas lukisan. Supaya terlihat lebih indah. Hasilnya memang demikian. Eksotis. Warna-warni. Objek di lukisan itu seolah tampak hidup.

Budi menekuni profesi barunya ini sejak dua tahun terakhir. Seiring meredupnya peminat batu akik. Seperti halnya pengusaha pemula. Jatuh bangun dia rasakan. Meski namanya cukup kondang sebagai maestronya batu akik Kulonprogo. Bukan berarti karya barunya langsung bisa diterima pasar. Meski bahannya sama-sama dari batu akik.

Ibarat pepatah Jawa “Jer Basuki Mawa Beya.” Tak ada kata instan untuk meraih kesuksesan. Semua butuh lara lapa dan perjuangan. Tanpa kenal lelah. Tidak putus asa. Ya, kesungguhan Budi pun kini terbayar. Lukisan mozaik karyanya dihargai tinggi. Oleh kolektor seni. Puluhan juta, hingga ratusan juta. Per lukisan. Bahkan tak sedikit penggemar lukisan luar negeri telah menawar karyanya. “Dari Jerman dan Belanda,” ungkapnya.

Sarono, salah seorang penggemar lukisan mozaik, mengaku terpukau dengan karya Budi. Menurutnya, harga mahal setara dengan bahan dan sentuhan seni yang ditorehkan sang seniman. Proses pembuatannya pun lama dan detail. “Indah sekali,” pujinya.

Budi telah menghasilkan puluhan lukisan mozaik. Lewat karyanya itu Budi membuktikan pada dunia. Tak ada kata menyerah oleh kondisi zaman. Benar saja, saat banyak pengrajin batu akik gulung tikar, tidak demikian dengan Budi. Dia mampu membalikkan keadaan. Membuktikan bahwa nilai batu akik tetap tinggi. Batu akik tetap bisa berjaya. Hanya bentuknya yang berbeda. (yog/rg/mg3)