GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul terus berupaya mengedukasi masyarakat agar berani hidup dan tidak mudah melakukan tindakan nekat bunuh diri. Salah satunya melalui program Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP). Program baru ini menekankan warga peduli dengan sesama. Lantaran mayoritas kasus bunuh diri selama ini akibat depresi.

”Dengan adanya IMP warga dapat lebih peduli dengan warga lainnya, sehingga berbagai permasalahan sosial dapat dipecahkan,” kata Bupati Badingah dalam acara pengukuhan program IMP di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari Kamis (22/11).

Menilik data, kata Badingah, kasus bunuh diri di Gunungkidul masih tinggi. Tahun ini, misalnya, ada 23 kasus. Paling dominan adalah dengan cara gantung diri.

Badingah juga menyoroti tingginya kasus perceraian. Hingga November 2018 setidaknya ada 1453 kasus. Pemicunya beragam. Salah satunya, tekanan ekonomi. Padahal, berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) telah memiliki program pemberdayaan.

”Masing-masing OPD sudah jalan programnya,” klaimnya.

Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi yang turut hadir dalam acara deklarasi IMP berharap, ke depan program yang baru saja dikukuhkan dapat berjalan sesuai rencana. Agar kasus bunuh diri dapat ditekan.

”Demi kemajuan Kabupaten Gunungkidul,” katanya.

Sementara itu, Humas Polres Gunungkidul Iptu Anang Prastawa mengatakan, kasus bunuh diri tahun ini menurun dibanding 2017. Pada 2017, misalnya, ada 35 kasus. Sedangkan per November 2018 tercatat 23 kasus. Dari jumlah itu, Kecamatan Tepus paling mendominasi. Dengan tiga kasus. Disusul Kecamatan Playen dua kasus. Kecamatan lainnya hanya satu kasus.

”Kecamatan Tepus sebagai kecamatan kasus gantung diri,” katanya.

Berdasarkan data, rata-rata pelaku gantung diri sudah menginjak usia tua. Mereka nekat mengakhiri hidup lantaran menderita penyakit menahun.

Menurutnya, polres telah melakukan antisipasi. Caranya dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan.

”Bekerja sama dengan pemkab,” tambahnya. (gun/zam/er/mg3)