Masa lalu Jogja membuat banyak orang merasa kangen. Perasaan itu kerap disampaikan mereka yang pernah hidup di kota pelajar itu pada dekade 1970 hingga 1990-an. Terutama mereka yang pernah sekolah atau kuliah di Jogja.

“Itu selalu dibicarakan setiap kali acara nostalgia,” ujar Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri Bantul Nasrudin Anshory saat dialog Srawung Warga Selasa Wage di depan Dinas Pariwisata DIY pada Selasa (20/11) malam.

Dialog Srawung Warga Selasa Wage diadakan setiap 35 hari sekali. Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pariwisata DIY itu banyak mengupas isu-isu aktual di tengah masyarakat. Malam itu salah satu tema yang diangkat berkaitan dengan peringatan Hari Toleransi Internasional.

Nasrudin mengusulkan agar suasana Jogja masa lalu dapat dihadirkan. Menurut dia, suasana guyub antarwarga itu membuat orang kangen dengan kota berjuluk banyak predikat. “Bicara Jogja tempo dulu, pasti ngangeni,” lanjut dia.

Keadaan itu sangat kontras dengan keadaan Jogja dewasa ini. Memasuki era 2000-an, kondisi Jogja makin sesak. Kemacetan terjadi di mana-mana. Ketidaknyamanan itu, sambung dia, harus segera dicarikan solusi. “Tantangan kita mengembalikan Jogja seperti tempo dulu agar orang kangen dan kerasan tinggal di sini,” katanya.

Dialog Srawung Warga Selasa Wage juga menghadirkan Pakar Budaya Jawa Dr Purwadi MHum. Dalam kesempatan itu Purwadi tampil mendalang. Iringannya adalah para mahasiswanya. Selama ini Purwadi menjadi staf pengajar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Penampilan dalang Ki Purwadi memakau. Apalagi dia mempersilakan anak didiknya ikut tampil. Mereka menyanyikan berbagai tembang atau lagu. Di antara lagu Gethuk, Aja Dipleroki, dan Prau Layar. Lalu lagu Gambang Suling, Jaran Teji dan Kembang Blimbing. Adapun cerita yang dibawakan lakon Gedhong Cokro Laksono. Lakon Gedhong Cokro Laksono memiliki makna filosofis yang dalam. Gedhong artinya bangunan. Cokro berarti roda yang berputar dan Laksono maknanya perilaku.

Dengan demikian, Gedhong Cokro Laksono berarti tempat untuk menjalankan roda kenegaraan berdasarkan keutamaan. “Lakon Gedhong Cokro Laksono berisi tentang keadaan masyarakat yang menjunjung tinggi keberagaman,” terang Purwadi.

Perbedaan suku, bahasa dan adat istiadat selalu dihormati. Kerukunan diwujudkan dengan kerja sama. Antarwarga saling menghargai. Guyub, manunggal dan tolong menolong. Tujuannya mewujudkan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Al kisah negeri Amarta berusaha untuk mewujudkan kemakmuran, ketentraman dan keselamatan bagi warganya. Usaha ini dilakukan dengan melibatkan semua unsur masyarakat. Menurut saran para sesepuh, negeri Amarta mendapatkan masa kejayaan dan keemasan kalau bisa membangun Gedhong Cokro Laksono.

Bahan bangunannya harus diambil dari hutan Sasana Sekar. Untuk memperolehnya, diutuslah Arjuna diiringi Semar, Gareng, Petruk, Bagong.

Cita-cita mendapatkan bahan bangunan Gedhong Cokro Lakson banyak rintangannya. Prabu Dasakumara dari negeri Tawang Gantungan mengerahkan pasukannya menggagalkan rencana negeri Amarta.

Prabu Dasakumara mendapat bantuan dari Kurawa. Keduanya berkehendak untuk menggagalkan. Namun berkat ketekunan Pandawa, akhirnya Gedhong Cokro Laksono berhasil dibangu sebagai sarana pelayanan dan pengabdian. (kus/ZL/MG))